PERSPEKTIF
.co
christian
online
Perspektif: Tentang Gerakan Orang Kristen Dunia

Menjadi Seperti, Tetap Seperti

Dari Perspektif: Tentang Gerakan Orang Kristen Dunia

Langsung ke: navigasi, cari

Draf Buku Perspektif


Harley Talman

Harley Talman served many years with Christar in the Middle East and Africa in church planting and theological education. His theology degree is from Dallas Theological Seminary and doctorate from Fuller School of Intercultural Studies.



Sebelum saya pernah bertemu dengan orang M, saya mengambil sebuah kursus mengenai M. Saya terkejut ketika mempelajari apa yang orang M percayai mengenai Kekristenan, ngeri melihat kesalahpahaman mereka mengenai teologi Kristen. Sesudah itu saya belajar dari para sarjana misi bahwa halangan budaya, sosial dan komunal juga menghalangi orang M untuk mengikuti Kristus dan mungkin lebih kuat dari penolakan teologis mereka.

“Menjadi Seperti”

Ketika saya pindah ke sebuah negara M beberapa tahun yang lalu, saya memilih untuk “menjadi seperti” orang-orang M lokal dan mengadopsi budaya mereka, meniru praktik Paulus seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 9:19-22:

Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat … supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat … supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.

Praktik Paulus mengadaptasi budaya tertentu kelihatannya masuk akal. Dia menjadi seperti orang yang ingin dimenangkannya: orang-orang Yahudi yang memiliki taurat, orang bukan Yahudi yang belum percaya yang “tidak ada taurat Musa” dan bahkan orang-orang yang “lemah” di mana ukuran agama menghalangi mereka menikmati manfaat-manfaat dari kebebasan Kristen.

Mengerti hal ini, saya berpakaian seperti orang lokal, memakai jenggot panjang seperti orang M yang taat dan menyatukan diri saya dalam budaya mereka dan mempelajari agama mereka. Akibatnya, saya sering ditanya, “Apakah Anda orang M?” Ini membuka kesempatan yang besar secara alami untuk membagikan iman saya. Lebih dari itu, saya mempelajari AQ dan menghafal ayat-ayat yang dapat membantu. Selama beberapa waktu, saya mampu membagikan beberapa kebenaran Alkitab utama dan mengoreksi kesalahpahaman dan penolakan terhadap Injil menggunakan kata-kata bijak Arab, konsep-konsep M dan ayat-ayat AQ. Saya melihat bahwa semakin saya “menjadi seperti” teman M saya, mereka semakin bisa mengerti kebenaran Alkitab dan datang kepada Kristus.

“Tetap Seperti”

Tetapi apa yang terjadi kepada orang M setelah mereka beriman kepada Kristus? Orang-orang M yang telah memeluk Injil didorong bahkan dituntut untuk “menjadi seperti” orang Kristen asing atau seperti para misionaris. Mereka menjadi “petobat” bukan hanya dalah hal iman Kristen tetapi juga dalam budaya, gaya hidup, identitas dan praktik agama. Menjadi “orang Kristen” dan bergabung dalam komunitas Kristen (banyak yang hanya menjadi orang Kristen nominal) telah menghasilkan penindasan dan pengusiran dari masyarakat M – bukan karena mengikut Kristus, tetapi karena mendatangkan malu terhadap keluarga mereka, menolak budaya mereka dan mengkhianati masyarakat mereka. Fenomena ini bukan hanya sangat disayangkan, tetapi sering kali bisa dihindari dan tidak alkitabiah, bertentangan dengan perintah rasul Paulus dalam 1 Korintus 7:17-20:

Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat. Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah. Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah…. Saudara-saudara, hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil.

Inti dari prinsip ini bagi orang percaya adalah “tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil.” Meskipun konteks sebelumnya membahas tentang tetap dalam pernikahan namun prinsipnya dapat juga diterapkan pada agama, sosial dan identitas budaya. Jika seseorang menjadi beriman ketika dia adalah seorang Yahudi (disunat), dia jangan mengubahnya (melalui prosedur operasi ay. 18). Demikian juga, orang bukan Yahudi jangan berusaha dengan sengaja menyunatkan diri dan mengikuti Hukum Musa dan cara hidup orang Yahudi. Di dalam segala hal, tetap dalam keadaan seperti pada waktu seseorang dipanggil meliputi berbagai afiliasi sosial, budaya dan agama.

Apa yang menjadi alasan Paulus menasihatkan, “Tetap seperti”? Perikop ini memunculkan setidaknya tiga alasan: pertama, “seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya” (ay. 17), situasi ketika dia dipanggil – tempatnya merupakan pemberian Tuhan (bdk. Kis. 17:26). Kedua, orang percaya dapat tetap bersama pasangannya yang belum percaya dan tetap kudus. Sebenarnya, keberadaan orang percaya “menguduskan” pasangannya yang belum percaya (1 Kor. 7:14). Ketiga, tetap dalam keadaannya dapat mendatangkan keselamatan bagi pasangannya (1 Kor. 7:12-16.

Ini juga dapat diterapkan berkaitan dengan komunitas sosial yang lebih besar tempat seseorang berada. Allah menugaskan seorang M pengikut Kristus kepada masyarakat M. Hubungannya dengan orang-orang M yang tidak percaya dan hidup seperti dia tidak membuat dia tidak kudus; namun kehadirannya “menguduskan” masyarakat bagi tujuan Allah. Yang paling penting, dengan tetap bersama mereka, Injil keselamatan dapat bergerak melalui jaringan hubungan seluruh orang percaya, memungkinkan adanya gerakan bagi Kristus.

“Menjadi Seperti…. Tetap Seperti”

Mengerti kedua kebenaran ini sangat penting dalam menciptakan berbagai gerakan para pengikut Kristus. Banyak misionaris menyadari bahwa mereka “menjadi seperti” komunitas yang mereka coba untuk jangkau, dimotivasi oleh suatu keinginan untuk memenangkan sebanyak mungkin orang bagi Kristus. Namun, agar pengikut Kristus dapat bertumbuh dan berkembang, orang luar perlu menolong mereka yang telah percaya untuk tetap “tinggal dalam” keadaan sebagaimana mereka dipanggil. Saya suka dengan cara teman saya mengatakannya: Kita “menjadi seperti” agar mereka dapat “tetap seperti.” Ini bagus, tetapi bagaimana sebenarnya hal tersebut dalam kenyataannya?

Tim saya sekarang terlibat dalam sebuah pelayanan kontekstual bagi orang M di Afrika. Kami telah mengadaptasi budaya dan agama lokal Afrika dan berusaha menyatakan kasih Allah melalui pekerjaan sosial secara menyeluruh, meskipun ada ketidakstabilan politik dan ancaman fisik. Kami telah melatih para sheik (pemimpin suku dan tua-tua desa) dalam pengembangan kesehatan komunitas. Ini telah membuka pintu bagi kami untuk mengajar mereka mengenai kesehatan rohani dan pesan Injil. Kami menjelaskan bahwa kami tidak meminta mereka untuk mengubah identitas mereka menjadi “orang Kristen.” Namun, mereka dapat menjadi para pengikut Yesus Sang Mesias yang setia dan warga kerajaan Allah.

Sejalan dengan proses pengambilan keputusan tradisional, para sheik berhubungan dengan pengajaran baru dari kami untuk mendapatkan persetujuan kelompok mereka. Hasilnya, lebih dari 100 sheik M percaya kepada Yesus Sang Mesias yang memiliki otoritas untuk mengampuni dosa mereka. Mereka terus mengadakan sholat (doa ritual) dan berpuasa, tetapi sekarang menjalankannya sejalan dengan perintah Yesus (bdk. Mat. 6). Yang paling penting, mereka berada di posisi yang memungkinkan mereka untuk membawa ratusan orang di desa mereka menjadi seperti mereka, setia kepada Kristus dan otoritas Alkitab sementara tetap sebagai M sebagai identitas dan budaya. Sesederhana ini: Kita menjadi seperti agar mereka bisa tetap seperti.


Draf Buku "Perspektif: Tentang Gerakan Orang Kristen Dunia -- Manual Pembaca" Edisi Keempat, Disunting oleh Ralph D. Winter, Steven C. Hawthorne. Hak Cipta terbitan dalam bahasa Indonesia ©2010 pada Perspectives Indonesia

... kembali ke atas