PERSPEKTIF
.co
christian
online
Perspektif: Tentang Gerakan Orang Kristen Dunia

Menemukan Tempat dan Melayani Berbagai Gerakan Dalam Masyarakat (lanjutan)

Dari Perspektif: Tentang Gerakan Orang Kristen Dunia

Langsung ke: navigasi, cari

Draf Buku Perspektif


Sambungan dari Bagian 1


Struktur Sosial dan Berbagai Gerakan Jemaat
Para pelayan lintas budaya perlu menyadari berbagai struktur, kelompok dan institusi dalam masyarakat di mana mereka melayani. Bagaimana sebuah masyarakat dibentuk dan bagaimana berbagai pengelompokan sosial berhubungan satu sama lain sementara Injil mulai berkembang dan menyebabkan perubahan dalam masyarakat? Di sini, sekali lagi, dua atau tiga ilustrasi dapat menunjukkan penerapan terbaik dan kebermanfaatan dari pemikiran ini.

Masyarakat Suku (Pedalaman)
Di dalam banyak suku, berbagai kelompok sosial memainkan peran penting dalam kehidupan individu, lebih dari yang mereka mainkan dalam masyarakat Barat yang sangat kuat menekankan individualisme dan kebebasan. Di dalam suatu suku, seseorang dilahirkan dan dibesarkan di dalam kelompok kekerabatan yang besar atau silsilah berdasarkan keturunan pria dari beberapa nenek moyang yang terpencil di masa lalu, ditambah dengan semua keluarga dari para pria ini.


Masyarakat Suku (Pedalaman)


Untuk bisa memahami jenis masyarakat ini, bayangkan Anda tinggal bersama dengan semua sanak keluarga Anda yang berbagi nama keluarga (nama belakang) yang sama dengan Anda. Semua pria yang satu generasi lebih tua dari Anda akan menjadi “ayah-ayah” Anda, bertanggung jawab untuk mendisiplin Anda ketika Anda menyimpang dari peraturan dan adat istiadat keluarga. Semua wanita dalam generasi tersebut akan menjadi “ibu-ibu” Anda yang memperhatikan Anda. Semua orang dalam silsilah Anda yang seusia dengan Anda akan menjadi “saudara laki-laki atau perempuan,” dan semua anak dari ”saudara laki-laki” Anda akan menjadi “anak laki-laki” dan ”anak-anak perempuan” Anda. Kelompok kekerabatan yang kuat dalam suatu suku memberikan rasa aman yang kuat bagi individu. Mereka menyediakan kebutuhan Anda ketika Anda sakit atau tidak ada makanan, menyokong Anda ketika Anda pergi sekolah, membantu Anda membeli ladang atau mencari pasangan hidup dan membela Anda ketika Anda diserang. Sebaliknya, kelompok membuat banyak tuntutan kepada Anda. Tanah Anda dan waktu Anda bukan milik Anda secara tepat. Anda diharapkan untuk berbagi dengan mereka dan seluruh silsilah Anda ketika mereka butuh bantuan. Keputusan penting dalam suku-suku ini pada umumnya dibuat oleh para tua-tua―tua-tua pria yang memiliki pengalaman hidup yang banyak. Ini khususnya benar dalam hal pengambilan keputusan terpenting dalam hidup, yaitu pernikahan. Tidak seperti masyarakat kita di mana orang muda terlalu mudah untuk menikah ketika mereka “jatuh cinta” tanpa dengan saksama menguji kualifikasi sosial, ekonomi, mental dan rohani calon pasangan Anda, di dalam kebanyakan suku, pernikahan diatur oleh orangtua. Dari pengalaman panjang mereka tahu bahaya dan lubang perangkap dari pernikahan. Mereka tidak mudah terlena oleh kedekatan emosional sesaat pada masa sekarang. Orangtua menentukan pasangan hanya setelah penyelidikan yang panjang dan saksama dari semua calon pasangan. Cinta bertumbuh dalam pernikahan ini sebagaimana halnya di dalam pernikahan lainnya ketika masing-masing pasangan belajar untuk hidup bersama dan mencintai pasangannya. Keputusan silsilah dan kesukuan juga dibuat oleh para tua-tua. Kepala keluarga menjadi penentu, tetapi mereka harus menyesuaikannya dengan keputusan para tua-tua jika mereka ingin tetap menjadi bagian dari suku. Jenis organisasi sosial seperti ini menimbulkan berbagai pertanyaan serius bagi penginjilan Kristen. Sebagai contoh, pengalaman Lin Barney. Lin berada di Borneo dan dia diundang untuk menyampaikan Injil ke sebuah petani dari suku yang tinggal jauh di pengunungan. Setelah perjalanan yang sulit dia tiba di petani itu dan diminta untuk berbicara kepada para pria yang telah berkumpul dalam rumah panjang. Dia membagikan pesan “Jalan Yesus” sampai malam hari dan akhirnya, para tua-tua mengumumkan bahwa mereka akan memutuskan tentang jalan baru ini. Anggota silsilah keluarga berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil untuk membahas masalah ini dan kemudian kepala-kepala silsilah keluarga berkumpul kembali untuk membuat keputusan final. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi Kristen, semuanya. Keputusan ini dibuat dengan kesepakatan umum. Apa yang harus dilakukan para misionaris dalam situasi seperti ini? Apakah mereka menolak keputusan kelompok itu dan berusaha membuat mereka memutuskan secara individu? Kita harus ingat bahwa di dalam masyarakat seperti ini tidak seorang pun yang akan berpikir untuk membuat keputusan penting seperti pernikahan terlepas dari para tua-tua. Oleh karena itu, apakah realistis mengharapkan mereka membuat keputusan yang terpenting mengenai kepercayaan mereka secara sendirian? Haruskah para misionaris menerima mereka semua sebagai orang-orang yang telah lahir baru? Bagaimana pun juga, beberapa orang mungkin belum ingin menjadi orang Kristen dan akan terus menyembah dewa-dewa masa lalu mereka. Keputusan kelompok tidak berarti semua anggota dari kelompok tersebut telah menjadi Kristen, tetapi itu berarti kelompok tersebut terbuka untuk pengajaran Alkitab selanjutnya. Tugas misionaris tersebut belum selesai―ini baru saja dimulai―karena dia sekarang harus mengajar mereka seluruh Kitab Suci. Gerakan kelompok suku seperti ini bukannya tidak umum. Faktanya, banyak dari pertumbuhan gereja di masa lalu muncul dari masyarakat seperti ini, termasuk banyak dari nenek moyang pertama yang menjadi orang Kristen dari sebagian besar pembaca buku ini.

Masyarakat Petani
Di dalam masyarakat petani, kita sering melihat kelas-kelas sosial, kelompok dan kasta sebagai ciri khas menonjol dari organisasi dan interaksi sosial ketimbang ikatan kekerabatan. Kekuasaan sering terkonsentrasi di tangan sekelompok elit yang terpisah dari mereka yang dianggap orang-orang biasa. Masyarakat petani terdiri dari kelompok-kelompok suku yang berbeda, sering kali dengan kelas, budaya dan bahasa yang berbeda (heterogen, terdiri dari beragam kelompok), sedangkan sebagian besar suku (pedalaman) bersifat homogen (terdiri dari satu kelompok).


Masyarakat Petani


• Menekankan pada kekerabatan sebagai dasar bagi ikatan sosial • Orientasi kelompok yang kuat dengan proses pengambilan keputusan secara kelompok • Hirarti antarkelompok • Komunikasi secara horizontal di dalam berbagai kelompok, vertikal di antara mereka.

Kehadiran beberapa kelompok suku di dalam desa yang sama memiliki implikasi yang signifikan bagi penanaman jemaat. Masalah penting muncul. Pertama adalah masalah kesatuan gereja. Jika kita menanam satu jemaat dalam satu kelompok, orang dari kelompok lain mungkin tidak bersedia atau diizinkan untuk hadir dalam jemaat tersebut. Jarak sosial sama pentingnya dengan jarak geografis. Orang bisa saja hidup hanya beberapa meter dari orang lain tetapi secara sosial jaraknya sangat jauh. Kita dapat melihat India sebagai ilustrasi akan hal ini. Petani dibagi ke dalam banyak jati atau kasta. Banyak dari kasta ini seperti, pendeta, tukang kayu, tukang besi, tukang cukur, tukang cuci, tukang periuk, dan tukang jahit, dikaitkan dengan monopoli atas pekerjaan tertentu. Kasta juga dikelompokkan ke dalam kasta bersih dan golongan yang tidak bisa disentuh atau kasta hina. Orang yang berada dalam kasta hina secara ritual mengotori dan sentuhan mereka, di masa lalu, mengotori orang dalam kasta bersih sehingga mereka harus menjalani mandi pembersihan untuk memulihkan kemurnian mereka. Akibatnya, orang di kasta hina harus hidup dalam desa kecil jauh dari desa utama dan dilarang untuk masuk ke kuil-kuil Hindu. Ketika Injil tiba, Injil cenderung masuk ke salah satu kasta tersebut, tetapi tidak secara bersamaan. Beberapa petobat baru berasal dari kasta bersih, tetapi ketika banyak orang dari kasta hina menerima Kristus, orang dari kasta bersih menolaknya. Mereka tidak mau berhubungan dengan orang dari kasta hina. Para misionaris terus menerima semua orang yang datang dan mengharuskan mereka semua bergabung dalam gereja yang sama. Konsekuensinya, banyak orang dari kasta bersih kembali ke Hinduisme. Masalahnya di sini sederhananya bukan hanya persoalan teologis. Banyak petobat dari kasta bersih dengan tulus percaya kepada Injil, dan bahkan hari ini banyak yang menjadi orang percaya secara sembunyi-sembunyi. Ini adalah masalah sosial. Orang-orang di sini secara sosial sangat berbeda dan sulit bagi mereka untuk berhubungan dekat dan saling menikah dengan orang yang dianggap berbeda dari mereka. Dapatkah kita mengharapkan mereka mengubah cara hidup sosial mereka yang sudah berakar secara mendalam pada saat mereka bertobat―dengan kata lain, haruskah kita mengharapkan mereka bergabung dalam gereja yang sama? Apakah mengubah kebiasaan sosial kita merupakan bagian dari pertumbuhan Kristen―atau haruskah kita mengizinkan mereka membentuk gereja lain dengan harapan bahwa dengan pengajaran yang lebih lanjut mereka menjadi satu? Ada beberapa orang di India yang berpendapat bahwa keselamatan seseorang tidak terkait dengan bergabung dalam satu gereja tunggal dan karena itu, mereka memulai gereja-gereja yang berbeda bagi kelompok kasta bersih dan kelompok kasta hina. Mereka memiliki keberhasilan yang lebih besar dalam memenangkan orang dari kasta bersih, tetapi mereka juga menghadapi kritik yang hebat. Orang lain berpendapat bahwa ini berlawanan dengan kehendak Allah. Mereka mempertanyakan apakah kita akan memecah gereja atas dasar struktur sosial dari manusia yang sudah jatuh dalam dosa seperti kelas dan kasta. Di mana kesatuan gereja dan kesatuan Injil dan Roh Kudus? Mereka berpendapat bahwa jika jembatan persekutuan tidak terbangun di antara kelompok yang ada sejak awal, Gereja akan terperangkap dalam sistem sosial dan akan bersumbangsih terhadap pemisahan dan penindasan yang menjadi karakteristik sistem-sistem seperti itu.

Ke Atas atau ke Bawah?
Ada dilema kedua yang kita hadapi ketika berhadapan dengan masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok yang digolongkan berdasarkan prestise dan kekuasaan. Kepada siapa kita harus pergi terlebih dahulu: elit yang dominan, orang-orang biasa di kelas menengah, atau kelompok orang yang hina-dina, budak belian, orang miskin atau orang-orang yang terpinggirkan pada titik paling bawah dalam masyarakat? Banyak misionaris berpendapat bahwa kita harus pergi pertama kali kepada kelompok yang dominan. Menurut mereka, jika para pemimpin komunitas menjadi Kristen yang lain akan mengikutinya karena para elit menjadi teladan mereka. Namun strategi ini kurang berhasil di dalam masyarakat petani. Pertama, elit petani lebih menolak Injil daripada kelas dan kasta di bawah mereka. Lebih jauh lagi, bahkan jika orang dalam kelompok yang dominan menjadi Kristen, mereka jarang bersedia berhubungan dan menginjili kelas di bawah mereka. Para misionaris lain pergi ke orang miskin dan orang yang tertindas terlebih dahulu. Ini sering terjadi bukan karena perencanaan yang sadar, namun karena respons yang luas dari orang bawah, yang bagi mereka Injil memiliki daya tarik istimewa. Banyak masyarakat petani tidak memiliki kelas menengah, setidaknya bukan dalam pengertian istilah itu di masa kini. Namun, dengan penyebaran modernitas orang-orang kelas menengah yang terdidik dan independen mulai muncul di banyak komunitas pedesaan. Tahun-tahun belakangan ini, kaum Injili semakin banyak yang pergi kepada kelas menengah ini untuk menanam jemaat karena mereka terbuka terhadap perubahan.


Masyarakat Kota
Ukuran dan kompleksitas yang tipis dari kota-kota modern membuat kita sulit untuk memahami mereka. Kita perlu menggunakan pendekatan makro dan mikro―pandangan dari atas dan dari jalanan―untuk membantu kita memahami hal yang besar, kompleks dan membingungkan yang kita sebut kota.

Pandangan Makro
Kota-kota sangat beragam, tergantung pada sejarah mereka, budaya dan lokasi. Mereka juga beragam dalam alasan keberadaan mereka, apakah sebagai pusat pemerintahan (Washington D.C.), pusat keagamaan (Mekah), pusat bisnis dan perdagangan (Mumbai), atau pusat pariwisata (Acapulco). Namun, meskipun keberagaman yang besar, beberapa generalisasi dapat dibuat yang dapat diterapkan pada kebanyakan, jika bukan semuanya, kota-kota. Untuk memahami kota-kota kita harus melihat dampak dari ukuran terhadap organisasi manusia. Adalah mustahil bagi sepuluh atau dua puluh juta orang untuk hidup bersama tanpa sistem sosial, ekonomi dan politik yang sangat kompleks untuk membuat kehidupan bersama mereka dimungkinkan. Orang-orang merupakan bagian dari keluarga, asosiasi, dan lingkungan yang berhubungan dengan struktur pemerintahan kota, dan pada akhirnya, merupakan bagian dari negara bagian dan struktur sebuah bangsa. Kota-kota adalah pusat kekuasaan, kekayaan, pengetahuan dan keahlian. Kota-kota mendominasi dan tergantung pada komunitas pedesaan dan kesukuan yang mengelilingi mereka dan yang menyediakan bahan makanan dan bahan baku bagi mereka. Sebagai pusat kota menarik perhatian orang kaya dan miskin. Kumpulan orang banyak menarik lebih banyak orang. Ukuran dan kompleksitas kota yang tipis dan sentralisasi kekuasaan mereka membangun hirarki internal. Jarak antara orang kaya dan miskin, orang berkuasa dan tidak berdaya, orang yang berstatus tinggi dan rendah, hampir tidak bisa dipahami. Para kepala korporasi modern dapat menghasilkan pendapatan lebih dengan bermain golf bersama para eksekutif lain ketimbang apa yang didapat oleh para karyawan mereka yang bergaji terendah dalam dua atau tiga tahun kerja keras! Karakteristik penting lainnya dari kota-kota adalah keberagaman. Kota-kota menarik jenis orang yang berbeda yang membentuk komunitas budaya mereka masing-masing. Orang cenderung berhubungan dekat dengan kelompok mereka sendiri, dan hanya berhubungan secara dangkal dengan orang-orang lainnya di kota.

Pandangan Mikro
Ini membawa kita kepada pandangan mikro atau pandangan tingkat jalanan tentang kota-kota. Komunitas yang khas didirikan berdasarkan perbedaan etnis, kelas, budaya dan tempat tinggal, di mana banyak yang tetap mempertahankan bahasa dan budaya asal mereka. Los Angeles memiliki lebih dari tujuh puluh lima komunitas etnis yang berbeda dan mengajar kelas-kelas di sekolah negeri dalam tujuh puluh lebih bahasa.


Masyarakat Urban yang Individualistik

• Penekanan pada individualisme dan pengambilan keputusan secara pribadi • Organisasi didasarkan pada asosiasi sukarela, jaringan dan pengelompokan geografis • Heterogen dan hirarki • Menggunakan media massa selain jaringan

Kelas-kelas muncul dalam masyarakat petani, tetapi di kota kelas-kelas meledak menjadi beragam himpunan gaya hidup yang terdiri dari orang-orang yang memiliki praktik budaya, nilai-nilai dan minat yang sama. Selain variabel ekonomi, ada subkultur yang muncul di seputar pekerjaan, agama atau minat khusus seperti mobil, seni, olahraga, dll. Kelas-kelas berbeda dari kelompok etnis dalam satu hal: batasan-batasannya yang longgar. Di dalam kelas mudah sekali untuk berpindah ke kelas atas atau kelas bawah. Tidak semua orang kota memiliki mentalitas kota. Banyak petani yang berkunjung atau pindah ke kota tetapi mempertahankan perilaku pedesaan mereka. Mereka membentuk lingkaran desa kecil di dalam kota di mana mereka berusaha mempertahankan gaya hidup seperti yang mereka ketahui di desa mereka. Pada akhirnya orang-orang seperti ini akan menjadi orang kota sejati, tetapi ini membutuhkan beberapa generasi.

Organisasi Sosial Urban
Setelah melihat beberapa karakteristik umum dari masyarakat kota, kita perlu melihat secara detail beberapa dimensi dari organisasi sosial mereka.

Peran
Sebagian besar hubungan dalam masyarakat petani bersifat multipleks. Orang-orang dalam lingkungan kota hubungannya bersifat simpleks. Hubungan multipleks ada di mana orang saling bertemu di banyak peristiwa berbeda dan di banyak peran berbeda. Kekuatan dari hubungan multipleks adalah orang belajar saling mengenal dengan intim, sebagai pribadi yang utuh. Hubungan cenderung lebih bertahan lama. Hubungan-hubungan ini menghasilkan rasa memiliki suatu komunitas. Ketika orang saling berhubungan dalam hubungan simpleks, mereka melihat masing-masing dalam satu peran ketika mereka bertemu, apakah itu sebagai rekan kerja, anggota keluarga, dokter, tetangga, dll. Hubungan-hubungan ini tidak bertahan lama, lebih dangkal dan fungsional, dan membuat orang merasa terasing.

Keluarga
Pada umumnya, ada kecenderungan untuk memiliki keluarga inti daripada keluarga besar dalam perkotaan. Pergerakan di kota, individualisme dan kebebasan mengikis kestabilan keluarga. Perceraian dan pernikahan ulang lebih umum ketimbang dalam masyarakat petani. Hasilnya adalah orangtua tunggal dan keluarga campuran. Namun, keluarga terus memainkan peran dominan dalam sektor privat kehidupan di kota.

Jaringan
Jaringan adalah bentuk utama dari organisasi sosial tingkat menengah di kota. Berita dapat menyebar secara cepat melalui jaringan. Sebagian besar orang kota mengembangkan jaringan inti yang terdiri dari orang-orang yang berhubungan dengan mereka, membahas masalah pribadi dan berbagi dalam rekreasi sosial. Sementara dalam komunitas petani kesamaan ini didasarkan pada kekerabatan, dalam latar kota orang cenderung berhubungan dengan orang yang berbeda keluarga yang memiliki pekerjaan, ketertarikan, kelas dan kelompok etnis yang sama.

Asosiasi dan Institusi
Struktur sosial yang dominan dalam kehidupan publik di kota-kota adalah asosiasi dan institusi. Keduanya bersifat fleksibel dan mampu mengorganisasi sejumlah besar orang yang beragam, yang membuat mereka lebih fungsional ketimbang berbagai kelompok kekerabatan dalam sebuah masyarakat yang kompleks. Asosiasi adalah kelompok-kelompok orang yang mengorganisasi diri mereka secara informal di sekitar minat atau tujuan yang sama. Itu bisa didasarkan pada persahabatan, jenis kelamin, umur, minat yang sama, tugas atau sasaran, prestise, dll. Asosiasi secara sukarela menciptakan simbol-simbol untuk mengekspresikan identitas mereka dan memperkuat rasa memiliki dari anggota-anggota kelompok tersebut. Mereka mengatur tugas dan merumuskan peran (seperti presiden, sekretaris). Mereka mengembangkan budaya dan norma mereka sendiri yang mereka berlakukan melalui berbagai tekanan sosial dengan beragam tingkatan. Asosiasi informal bisa berkembang menjadi institusi formal, yang menjadi bentuk utama dari organisasi sosial dalam sektor publik di kebanyakan kota-kota. Ini termasuk pemerintahan, bank, sekolah, gereja, bisnis, rumah sakit, dll. Di dalam berbagai institusi, anggota-anggotanya menemukan bahasa, peran, jaringan, hirarki sosial, struktur kekuasaan, sumber ekonomi, sistem kepercayaan, berbagai simbol dan wawasan dunia. Singkatnya, masing-masing beroperasi seperti sebuah komunitas subkultur/subbudaya.

Gereja-gereja di Kota
Kita tidak bisa menyelidiki secara tuntas metode untuk menanam jemaat dalam latar urban. Tujuan kita di sini adalah untuk membuat kita sadar akan kebutuhan untuk menyelidiki dan mengerti latar urban secara spesifik di mana kita melayani dan menjadi peka terhadap cara konteks sosial dan budaya dari orang-orang mempengaruhi cara bagaimana mereka mendengar dan percaya kepada Injil.

Gereja-gereja dan Keberagaman
Di kota, dibutuhkan banyak gereja untuk menjangkau beragam kelompok. Karena pertumbuhan yang cepat dari kota-kota, mudah bagi seluruh kelompok suku dan komunitas di suatu kota untuk tidak memiliki gereja. Gereja yang sudah ada cenderung melayani golongan orang mereka sendiri, tetapi seseorang perlu melihat kota secara keseluruhan untuk mengidentifikasi di mana gereja-gereja baru sangat dibutuhkan. Menanam jemaat harus dimulai dengan penelitian yang saksama. Jika tidak, kita akan buta terhadap banyak kekuatan sosial dan budaya yang dapat menolong atau menghalangi pelayanan kita. Kajian demografis tentang kota bisa memimpin kita memilih sebuah lokasi dan komunitas tertentu. Penelitian etnografis harus dilakukan pada komunitas yang dipilih tersebut. Bagian dari penelitian dan proses persiapan adalah pengujian terhadap prakonsepsi kita tentang orang dan pekerjaan kita. Sikap terdalam pada diri kita sering kali merupakan halangan terbesar bagi penanaman jemaat secara efektif dalam kota. Salah satu halangan terbesar bagi penanaman jemaat yang efektif di kota adalah prakonsepsi kita tentang apa yang membentuk sebuah gereja. Kita sering percaya bahwa gereja harus memiliki karakteristik dari gereja yang kita sudah akrab dengannya. Terlalu sering kita sebagai para petani menanam jemaat pedesaan di dalam latar urban. Kita perlu memisahkan diri dari stereotip kita tentang gereja jika kita ingin efektif di kota. Tidak ada satu bentuk gereja pun yang berfungsi sebagai model bagi semua gereja lain. Gereja akan mengambil bentuk yang berbeda-beda di dalam komunitas yang berbeda-beda. Gereja mega umumnya menarik perhatian orang dari kalangan menengah dan atas yang mencari pelayanan yang beragam. Ruang depan toko yang menghadap ke jalan dan misi menjangkau orang miskin dan gelandangan; gereja kecil dan persekutuan rumah menjangkau mereka yang mencari rasa komunitas yang kuat. Banyak gereja kota sedang menemukan kebutuhan untuk memasukkan keberagaman ke dalam gereja lokal itu sendiri. Contoh-contohnya termasuk beragam kelompok etnis yang membentuk jemaat yang bekerja sama dan menggunakan fasilitas yang sama atau gereja kota yang multietnis yang memiliki beberapa jemaat yang saling berhubungan. Setiap kelompok perlu ruang dan gagasan dalam kehidupan gereja, dan setiap kelompok perlu dipupuk dan dibina dalam pertemuannya masing-masing.

Gerakan Gereja di Antara Orang Miskin
Hari ini gereja-gereja di antara orang miskin sedang menanam berbagai jemaat yang lain. Para pemimpin lokal sangatlah penting untuk gerakan seperti ini. Para pemimpin yang paling efektif adalah mereka yang muncul dalam konteks kehidupan sehari-hari dan memiliki visi, semangat dan karunia untuk mengorganisasi dan membimbing orang. Sebagian besar dari mereka harus menafkahi sendiri penghidupan mereka dan melayani karena hasrat mereka bagi Kristus. Mereka membutuhkan pelatihan Alkitab, tetapi hanya bisa memperolehnya melalui pemuridan secara pribadi, kursus di malam hari atau seminar yang berkelanjutan.


Komunitas Suku dan Petani di Kota-kota


Banyak gerakan gereja di antara orang miskin diiringi dengan penekanan pada mujizat Allah. Orang mencari demonstrasi yang bisa dilihat akan kuasa transformasi Allah. Kita perlu mendemonstrasikan kuasa doa dan penyembuhan luar biasa serta pemeliharaan dari Allah. Semua penyembuhan adalah penyembuhan dari Allah dan itu bersifat mujizat. Sebagian terlihat lebih biasa dibandingkan yang lain, tetapi kita harus mengharapkan dan meneguhkan semua itu.

Membangun Komunitas
Kota adalah sebuah tempat keterasingan. Penghuni kota bertemu banyak orang tetapi mereka semakin kurang merasa menjadi bagian dari komunitas yang intim. Gereja dapat menyediakan rasa komunitas di tengah sistem yang menjadi tidak manusiawi di kota. Tetapi gereja-gereja di kota berada dalam bahaya menjadi klub religius, dan gereja besar di kota sering mengambil bentuk dari sebuah korporasi. Apakah mungkin gereja-gereja lokal untuk sungguh-sungguh menjadi komunitas kovenan di dalam latar urban? Gereja mula-mula sungguh menjadi komunitas kovenan dan menarik orang-orang yang kesepian dan terhilang ke dalam kumpulannya. Jika Gereja masa kini kalah dalam pertempuran melawan kecenderungan menjadi klub religius atau korporasi, Gereja akan menjadi atau berada di dalam bahaya menjadi hanya organisasi manusia lainnya yang terperangkap di masanya. Jika Gereja ingin menjangkau kota, ia harus pertama-tama menjadi Gereja dalam pengertian alkitabiah dari istilah tersebut―sebuah tempat di mana Kristus berada di pusat dan Roh Kudus hadir dalam kekudusan dan kuasa.


Draf Buku "Perspektif: Tentang Gerakan Orang Kristen Dunia -- Manual Pembaca" Edisi Keempat, Disunting oleh Ralph D. Winter, Steven C. Hawthorne. Hak Cipta terbitan dalam bahasa Indonesia ©2010 pada Perspectives Indonesia

... kembali ke atas