PERSPEKTIF
.co
christian
online
Perspektif: Tentang Gerakan Orang Kristen Dunia

Makedonia Baru: Sebuah Era Baru Revolusioner Dalam Misi Dimulai

Dari Perspektif: Tentang Gerakan Orang Kristen Dunia

Langsung ke: navigasi, cari

Draf Buku Perspektif


Ralph D. Winter

Winter.jpg
Ralph D. Winter adalah Direktur Umum Frontier Mission Fellowship (FMF) di Pasadena, CA. Setelah melayani selama sepuluh tahun sebagai misionaris di antara orang Indian Mayan di dataran tinggi Guatemala, beliau dipanggil menjadi Profesor Misi di School of World Misson di Fuller Theological Seminary. Sepuluh tahun kemudian, beliau dan istri pertamanya, Roberta, mendirikan masyarakat misi yang disebut Frontier Mission Fellowship yang kemudian melahirkan U.S. Center for World Mission dan William Carey International University, di mana kedua institusi tersebut melayani orang-orang yang bekerja di garis depan misi


Donald McGavran berkomentar, “Di Kongres Internasional Penginjilan Dunia, Dr. Ralph Winter membuktikan melampaui keraguan yang masuk akal manapun bahwa di dunia saat ini [tahun 1974] 2.700.000.000 laki-laki dan perempuan mendengar Injil melalui ‘penginjilan tetangga dekat.’ Mereka bisa mendengarnya hanya dengan penginjil E-2 dan E-3 yang melintasi rintangan-rintangan budaya, linguistik, dan geografis, dengan sabar mempelajari budaya dan bahasa lain, selama beberapa dekade memberitakan Injil melalui perkataan dan perbuatan, dan melipatgandakan gereja-gereja Kristen yang reproduktif dan bertanggung jawab.” McGavran menambahkan, “Tidak ada yang dikatakan di Lausanne yang memiliki arti lebih daripada untuk perluasan Kekristenan antara sekarang dengan tahun 2000.”

Artikel berikut adalah teks pidato Winter, disampaikan pada Kongres Lausanne Juli 1974. Dalam beberapa tahun terakhir, sebuah kesalahpahaman yang serius telah merayap ke dalam pemikiran banyak penginjil. Anehnya, hal itu berdasarkan pada sejumlah fakta yang sangat bagus. Injil sekarang telah sampai ke ujung bumi. Orang-orang Kristen sekarang telah memenuhi Amanat Agung setidaknya dalam pengertian geografis.

Pada momen sejarah ini, kita dapat mengakui dengan penuh hormat dan kebanggaan, para penginjil dari setiap bangsa itu yang telah pergi sebelum kita dan yang usaha pengorbanan serta pencapaian heroik mereka, telah menjadikan Kekristenan sejauh ini agama terbesar dan agama yang paling tersebar luas di dunia, dengan gereja Kristen di setiap benua dan di hampir setiap negara. Ini bukanlah kemenangan hampa. Sekarang lebih dari kapan pun sejak Yesus berjalan di pantai Galilea, kita tahu dengan keyakinan penuh bahwa Injil adalah untuk semua orang, bahwa Injil masuk akal dalam bahasa apa pun dan bahwa Injil bukan sekadar sebuah agama dari Mediterania atau dari Barat.

Ini semua benar. Di sisi lain, banyak orang Kristen sebagai hasilnya memiliki kesan bahwa pekerjaan itu sekarang hampir selesai dan bahwa untuk menyelesaikannya kita hanya perlu untuk maju dalam penginjilan lokal sebagai peran dari gereja menjangkau seluruh dunia sekarang mencapai kemanapun pekerjaan itu telah dirintis. Banyak organisasi Kristen secara luas mulai dari Dewan Gereja Dunia sampai ke denominasi-denominasi Amerika Serikat, bahkan beberapa kelompok penginjilan, telah terburu-buru sampai pada kesimpulan bahwa kita sekarang boleh meninggalkan strategi misionaris tradisional dan mengandalkan orang-orang Kristen lokal dimanapun untuk menyelesaikan pekerjaan itu.

Karena inilah mengapa penginjilan adalah satu-satunya kata teguran untuk kesatuan penginjilan hari ini. Tidak semua bisa sepakat mengenai strategi-strategi misi luar negeri, namun lebih banyak orang yang lebih daripada sebelumnya, sepakat mengenai penginjilan, karena hal itu tampaknya menjadi satu-satunya pekerjaan jelas yang harus terus dilakukan. Baiklah! Tidak ada yang salah dengan penginjilan. Sebagian besar pertobatan pastilah terjadi sebagai hasil kesaksian beberapa orang Kristen kepada tetangga yang dekat dan itu adalah penginjilan. Masalah yang besar adalah kebenaran tambahan bahwa sebagian besar orang-orang non-Kristen di dunia hari ini bukanlah tetangga-tetangga dekat secara budaya dari setiap orang Kristen dan bahwa itu akan membutuhkan penginjilan “lintas budaya” yang khusus untuk menjangkau mereka.

Daftar isi

PENGINJILAN LINTAS BUDAYA: KEBUTUHAN YANG KRITIS

Contoh Kebutuhan

Marilah kita mendekati subjek ini dengan beberapa ilustrasi grafis. Saya berpikir, misalnya, ratusan ribu orang Kristen di Pakistan. Hampir semua dari mereka adalah orang-orang yang belum pernah menjadi M dan tidak memiliki hubungan dengan komunitas M yang mendorong kesaksian. Namun mereka tinggal di negara yang 97% M!

M, dari pihak mereka, memiliki sikap yang buruk terhadap lapisan masyarakat yang ditunjukkan oleh orang-orang Kristen. Satu kelompok Kristen telah berani menyebut dirinya Gereja Pakistan.

Kelompok Kristen lain dikenal dengan nama Presbyterian Church of Pakistan. Sedangkan ini adalah gereja-gereja nasional dalam pengertian bahwa mereka adalah bagian dari negara mereka, mereka tidak dapat disebut gereja-gereja nasional jika frase ini menyiratkan bahwa mereka secara budaya terkait dengan blok besar orang-orang yang merupakan 97% lainnya dari negara, yaitu M. Jadi, meskipun M secara geografis adalah tetangga dekat orang-orang Kristen, mereka bukanlah tetangga dekat secara budaya dan dengan demikian penginjilan yang biasa tidak akan berfungsi.

Atau Gereja India Selatan, sebuah gereja besar yang telah mengumpulkan usaha-usaha misionaris yang signifikan dari banyak gereja selama abad terakhir. Namun sementara itu disebut Gereja India Selatan, 95% anggotanya berasal dari lima diantara lebih dari 100 kelas sosial (kasta) di India Selatan. Penginjilan biasa dari pihak orang Kristen yang sudah ada akan mudah mengajak laki-laki dan perempuan dari lima kelas sosial yang sama. Namun, akan jauh lebih sulit – ini sebenarnya dalam jenis penginjilan lain – bagi gereja ini untuk membuat pencapaian besar di dalam 95 kelas sosial lain yang merupakan sebagian besar dari penduduknya.

Atau gereja besar Batak di Sumatra Utara. Ini adalah salah satu gereja terkenal di Indonesia. Para anggotanya telah melakukan banyak penginjilan di antara sesama orang Batak yang di antara mereka masih ada ribuan yang bisa mereka jangkau tanpa belajar bahasa asing, dan di antara orang-orang yang mereka bisa bekerja dengan efisiensi yang maksimal dari hubungan langsung dan pemahaman. Tetapi pada saat yang sama, sebagian besar dari semua orang di Indonesia bertutur bahasa-bahasa lain dan dari unit etnis yang lain. Bagi orang-orang Kristen Batak di Sumatra Utara, untuk memenangkan orang bagi Kristus dari bagian lain Indonesia akan menjadi semacam tugas yang jelas berbeda. Ini adalah penginjilan jenis lain.

Atau gereja besar Nagaland di timur laut India. Bertahun-tahun yang lalu, misionaris-misionaris Amerika dari dataran Assam menjangkau Bukit Naga dan memenangkan beberapa Naga Ao. Kemudian naga Ao ini memenangkan hampir semua suku mereka bagi Kristus. Hal berikutnya, Naga Ao memenangkan anggota suku Santdam Naga yang bertutur bahasa yang serumpun. Orang-orang Kristen Santdam Naga ini lalu mulai memenangkan hampir seluruh suku mereka.

Proses ini terus berlangsung hingga mayoritas dari semua 14 suku Naga menjadi Kristen. Sekarang sebagian besar Nagaland adalah Kristen – bahkan pegawai pemerintahan dari pemerintah negara adalah Kristen – ada keinginan untuk bersaksi di tempat lain di India. Namun bagi orang-orang Kristen Nagaland, untuk memenangkan orang lain di India adalah tugas misi luar negeri yang sama seperti bagi orang Inggris, Korea, atau Brazil yang menginjili di India. Ini adalah satu alasan mengapa hal itu adalah suatu tugas baru dan belum pernah terjadi sebelumnya bagi orang-orang Naga untuk menginjili seluruh India. Kewarganegaraan India adalah salah satu keuntungan yang dimiliki orang Kristen Naga dibandingkan dengan orang dari negara lain, namun kewarganegaraan tidak membuatnya lebih mudah bagi mereka untuk belajar salah satu dari ratusan bahasa yang sama sekali asing di seluruh India.

Dengan kata lain, bagi orang-orang Naga menginjili orang lain di India, mereka akan perlu untuk menerapkan penginjilan jenis lain yang radikal. Jenis penginjilan yang termudah, ketika mereka menggunakan bahasa mereka sendiri untuk memenangkan bangsa mereka sendiri, sekarang sebagian besar di masa lampau. Jenis penginjilan kedua bukanlah lebih sulit – dimana mereka memenangkan orang-orang dari suku tetangga Naga, yang bahasanya adalah bahasa saudara yang serumpun. Penginjilan jenis ketiga, yang diperlukan untuk memenangkan orang-orang nun jauh di bagian India, akan jauh lebih sulit.

Berbagai Jenis Penginjilan

Mari kita beri label untuk berbagai jenis penginjilan ini. Dimana seorang Naga Ao memenangkan Ao lainnya, mari kita menyebut itu penginjillan E-1. Dimana seorang Ao melintasi batas bahasa suku ke bahasa yang serumpun dan memenangkan Santdam, kita akan menyebutnya penginjilan E-2. (tugas E-2 tidak mudah juga dan membutuhkan teknik yang berbeda.) Namun kemudian jika seorang Naga Ao pergi ke daerah lain India, ke bahasa yang benar-benar asing, misalnya, Telugu, Korhu atau Bhili, tugasnya akan jauh lebih sulit daripada penginjilan E-1 atau bahkan E-2. Kita akan menyebutnya penginjilan E-3.

Mari kita mencoba terminologi ini di negara lain. Misalnya Taiwan. Ada juga, berbagai jenis bangsa. Mayoritas adalah Minnans, yang ada di sana sebelum makanan orang-orang bertutur bahasa Mandarin datang dari seberang dataran. Kemudian ada blok besar orang-orang yang bertutur bahasa Hakka yang datang dari dataran lebih awal. Di atas pegunungan, bagaimanapun, beberapa ratus ribu penduduk asli bertutur dialek bahasa Melayu-Polinesia yang sama sekali berbeda dari bahasa Tionghoa. Sekarang, jika seorang Kristen dari Tiongkok Dataran memenangkan orang lain dari dataran, itu adalah penginjilan E-1. Jika dia memenangkan orang Taiwan Minnan atau Hakka, itu adalah penginjilan E-2. Jika dia memenangkan orang dari suku-suku di bukit, itu adalah penginjilan E-3, dan ingat, E-3 adalah tugas yang jauh lebih rumit, dilakukan pada jarak budaya yang lebih besar.

Sejauh ini kita hanya mengacu pada perbedaan bahasa, namun untuk tujuan mendefinisikan strategi penginjilan, segala jenis tantangan, segala jenis hambatan komunikasi yang mempengaruhi penginjilkan adalah signifikan. Di Jepang misalnya, hampir semua orang bertutur bahasa Jepang, dan tidak ada dialek bahasa Jepang yang sangat berbeda dibandingkan dengan dialek bahasa Tionghoa. Namun terdapat perbedaan-perbedaan sosial yang membuat sangat sulit bagi orang-orang dari satu kelompok untuk memenangkan orang lain dari kelas sosial yang berbeda. Di Jepang, sama seperti di India, perbedaan sosial sering menjadi lebih signifikan dalam penginjilan daripada perbedaan bahasa. Sehingga orang Kristen Jepang tidak hanya memiliki lingkungan kontak E-1, tetapi juga lingkungan E-2 yang lebih sulit untuk dijangkau. Para misionaris yang pergi dari Jepang ke bagian dunia yang lain untuk bekerja dengan non-Jepang dengan bahasa yang berbeda total sedang melakukan tugas penginjilan berdasarkan E-3.

Terakhir, ijinkan saya memberi contoh dari pengalaman saya sendiri. Saya bertutur bahasa Inggris sebagai bahasa pribumi. Selama sepuluh tahun, saya tinggal dan bekerja di Amerika Tengah, sebagian besar waktu di Guatemala, dimana Spanyol adalah bahasa resmi, namun dimana mayoritas orang bertutur beberapa dialek dari keluarga bahasa asli Maya. Saya punya dua bahasa untuk dipelajari. Spanyol memiliki 60% tumpang tindih dalam kosa kata dengan bahasa Inggris, jadi saya tidak kesulitan mempelajari bahasa tersebut. Seiring dengan belajar bahasa Spanyol, saya menjadi terbiasa dengan perluasan budaya Eropa ke Dunia Baru, dantidaklah terlalu sulit untuk memahami cara hidup kalangan orang yang bertutur bahasa Spanyol.

Namun, karena Spanyol begitu mudah dibandingkan, saya mendapati bahwa belajar bahasa Maya di daerah kami, sangat lebih sulit. Dalam pekerjaan kami sehari-hari, beralih dari bahasa Inggris ke Spanyol ke bahasa Maya membuat saya cukup sadar dengan tiga “jarak budaya” yang berbeda. Ketika saya berbicara tentang Kristus kepada seorang Tentara Perdamaian dalam bahasa Inggris, saya sedang melakukan penginjilan E-1. Ketika saya berbicara kepada seorang Guatemala dalam bahasa Spanyol, itu adalah penginjilan E-2. Ketika saya berbicara kepada seorang Indian dalam bahasa Maya, itu adalah penginjilan E-3 yang jauh lebih sulit.

Sekarang saya tinggal di California Selatan, dimana sebagian besar kontak saya ada di lingkungan E-1, namun jika saya menginjili di antara jutaan orang yang bertutur bahasa Spanyol, saya harus memakai penginjilan E-2. Jika saya belajar bahasa Navajo dan berbicara tentang Kristus kepada 30.000 orang Indian Navajo yang tinggal di Los Angeles, saya melakukan penginjilan E-3. Menjangkau para pengungsi yang bertutur bahasa Kanton dari Hong Kong dengan Kabar Baik tentang Kristus, bagi saya, adalah juga tugas E-3.

Perhatikan, bagaimana pun, bahwa apa yang bagi saya E-3 bisa hanya E-2 bagi orang lain. Orang Tiongkok kelahiran Amerika, yang memiliki keterbukaan yang signifikan terhadap sub-budaya bertutur bahasa Kanton, akan melihat pengungsi Hong Kong hanya sebuah tugas E-2. Semua orang yang ada di sini di Kongres ini memiliki lingkungan E-1 nya sendiri dimana dia bertutur bahasanya sendiri dan membangun di semua intuisi yang berasal dari pengalamannya dalam budayanya sendiri. Dan mungkin hampir semua dari kita adalah lingkungan E-2 – kelompok orang yang bertutur bahasa-bahasa yang sedikit berbeda, atau yang terlibat dalam pola budaya yang cukup berbeda dengan budaya kita sendiri ketika yang membuat komunikasi lebih sulit. Orang-orang demikian dapat dijangkau dengan sedikit susah payah dan dengan upaya yang tulus, namun itu akan membawa kita keluar dari cara kita untuk menjangkau mereka.

Lebih penting, mereka adalah orang-orang yang, sekali bertobat, tidak akan merasa nyaman di dalam gereja yang kita hadiri. Bahkan, mereka mungkin bertumbuh lebih cepat secara rohani jika mereka dapat menemukan persekutuan Kristen di antara kalangan mereka sendiri. Lebih signifikan untuk penginjilan, cukup mungkin bahwa dengan persekutuan mereka sendiri, mereka lebih mungkin untuk memenangkan orang lain dari kelompok sosial mereka sendiri. Akhirnya, setiap kita di sini di Lausanne memiliki lingkungan E-3: sebagian besar bahasa dan budaya di dunia sama sekali asing bagi kita; mereka ada pada jarak maksimum budaya. Jika kita berusaha untuk menginjili pada jarak E-3 ini, kita mempunyai pendakian bukit yang panjang untuk bisa masuk akal bagi siapa pun.

Singkatnya, pola induk dari perluasan gerakan Kristen adalah pertama untuk usaha khusus E-2 dan E-3 untuk hambatan lintas budaya ke dalam komunitas baru dan mendirikan denominasi-denominasi yang kuat, berkelanjutan, dan penuh semangat menginjili, dan kemudian untuk gereja nasional meneruskan pekerjaan pada tingkat E-1 yang benar-benar berkekuatan tinggi. Dengan demikian kita dipaksa untuk percaya bahwa sampai semua suku dan bahasa memiliki gereja menginjili yang kuat dan berkuasa di dalamnya, dan dengan demikian, saksi E-1 di dalamnya, upaya-upaya E-2 dan E-3 yang datang dari luar masih penting dan sangat mendesak.

PENGINJILAN LINTAS BUDAYA: KEBUTUHAN YANG KRITIS

Pada titik ini, mari kita tanyakan apa yang Alkitab katakan tentang semua ini. Apakah perbedaan-perbedaa budaya ini adalah sesuatu yang dicatat oleh Alkitab? Apakah ini adalah sesuatu yang harus memakan waktu dan perhatian kita? Apakah masalah jarak budaya ini adalah sesuatu yang begitu penting sehingga pantas masuk ke dalam Kongres seperti ini? Mari kita beralih ke Alkitab dan meihat apa yang dikatakan.

Kisah Para Rasul 1:8 Sebuah Penekanan pada Jarak Budaya

Mari kita melihat bagian penting dalam pasal pertama Kisah Para Rasul, demikian sentral untuk Kongres ini secara keseluruhan, dimana Yesus menunjuk kepada murid-murid-Nya ruang lingkup seluruh dunia dari kepedulian Allah – “di Yerusalem, di seluruh Yudea, dan di Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Jika bukan karena bagian ini (dan semua bagian lain dalam Alkitab yang mendukungnya), kita bahkan tidak akan berkumpul di sini hari ini. Tanpa mandat berdasarkan Alkitab ini, tidak akan ada Kongres Penginjilan Dunia. Justru inilah tugasnya – tugas memuridkan semua bangsa – yang melibatkan kita semua dan menyatukan kita semua dalam satu usaha yang bertujuan sama.

Perhatikan, bagaimanapun, bahwa Yesus tidak sekadar mencakup seluruh dunia. Dia membedakan antara bagian-bagian dunia yang berbeda dan membedakannya menurut jarak relatif dari bangsa-bangsa itu dari para pendengar-Nya. Di kesempatan yang lain Dia hanya berkata, “Pergilah ke seluruh dunia,” namun dalam bagian ini Dia telah membagi tugas itu ke dalam komponen-komponen yang signifikan.

Pada pandangan sekilas pertama, Anda mungkin berpikir bahwa Dia hanya berbicara secara geografis, namun dengan studi yang lebih teliti, tampak jelas bahwa Dia tidak sekadar berbicara tentang jarak geografis, tetapi tentang jarak budaya. Petunjuknya adalah munculnya kata Samaria dalam urutan ini. Untungnya, kita memiliki wawasan khusus mengenai apa yang Yesus maksud dengan Samaria, karena Perjanjian Baru mencatat dalam bagian yang banyak dengan tepat tentang permasalahan penginjilan yang dihadapi orang-orang Yahudi dalam usaha menjangkau orang-orang Samaria. Saya berbicara dari kisah yang terkenal tentang Yesus dan perempuan di sumur. Samaria tidaklah jauh secara geografis. Yesus harus lewat sana setiap kali Dia pergi dari Galilea ke Yerusalem.

Namun ketika Yesus berbicara kepada perempuan Samaria ini, segera menjadi jelas bahwa dia menghadapi kendala budaya yang khusus. Sementara kelihatannya dia cukup dekat secara linguistik dengan Dia untuk bisa memahami perkataannya, jawabannya yang pertama terfokus pada perbedaan antara orang Yahudi dan Samaria – mereka beribadah di tempat yang berbeda. Yesus tidak menyangkali perbedaan yang menyolok ini, tetapi menerimanya dan melampauinya dengan menunjukkan keterbatasan budaya manusia baik cara ibadah Yahudi maupun Samaria. Dia berbicara ke hatinya dan melangkaui perbedaan-perbedaan budaya.

Sementara itu, para murid tampak bingung dan dalam kesukaran. Bahkan jika mereka mengerti bahwa Allah tertarik dengan orang-orang Samaria, mungkin mereka akan menghadapi kesulitan berjuang dengan perbedaan budaya. Bahkan jika mereka telah berusaha untuk melakukannya, mungkin mereka tidak cukup peka untuk melangkaui perbedaan-perbedaan tertentu dan langsung meunju inti masalahnya – yang adalah hati perempuan itu.

Paulus bertindak dengan prinsip yang sama ketika dia berusaha untuk menginjili orang-orang Yunani, yang bahkan berada pada jarak budaya yang lebih besar. Bayangkan betapa terkejutnya beberapa orang Kristen Yahudi yang setia ketika mereka mendengar desas-desus bahwa Paulus melewatkan sunat, salah satu perbedaan budaya yang paling penting bagi orang Yahudi, bahkan orang Yahudi Kristen, dan menuju ke inti masalahnya. Dia dilaporkan kepada mereka mengatakan, “ Baik sunat atau tidak bersunat tidak berarti apapun dibandingkan dengan ada di dalam Kristus, percaya kepada-Nya, dibaptis dalam nama-Nya, dipenuhi dengan Roh-Nya, menjadi anggota tubuh-Nya.”

Pada titik ini kita harus berhenti cukup lama untuk membedakan antara jarak budaya dengan dinding prasangka. Mungkin terdapat tembok tinggi dari prasangka yang ada, dimana orang Yahudi berhadapan dengan orang Samaria, namun jelas bahwa orang Yunani, yang bahkan tidak menyembah Allah yang sama, ada pada jarak budaya yang lebih jauh dengan orang Yahudi daripada orang-orang Samaria, yang jika dibandingkan adalah saudara sepupu dekat. Adalah mengherankan bahwa kadangkala orang-orang yang paling dekat dengan kita adalah yang paling sukar untuk dijangkau.

Misalnya, seorang Kristen Yahudi berusaha untuk menginjili akan mengerti seorang Samaria dengan lebih mudah daripada seorang Yunani, namun dia akan lebih cenderung dibenci oleh orang Samaria daripada Yunani. Di Belfast saat ini, misalnya, masalahnya lebih banyak bukan pada jarak budaya seperti prasangka. Misalkan seorang Protestan yang telah tumbuh besar di Belfast hendak bersaksi bagi Kristus kepada sejumlah Katolik Belfast dan Indian Timur. Dia akan lebih mudah memahami orang senegaranya yang Katolik, namun mungkin menghadapi prasangka yang lebih kecil dari orang Indian Timur. Secara umum, maka, jarak budaya lebih mudah untuk dilalui daripada tembok tinggi prasangka untuk dipanjat.

Namun, kembali ke bagian sentral kita, jelaslah bahwa Yesus mengacu terutama bukan kepada geografi ataupun tembok-tembok prasangka ketika Dia menyebutkan Yudea, Samaria, dan ujung bumi. Jika Dia berbicara tentang prasangka, Samaria akan muncul terakhir. Dia akan mengatakan, “Di Yudea, di seluruh dunia dan bahkan di Samaria.” Kelihatannya Dia memperhitungkan jarak budaya sebagai faktor utama. Jadi, seperti kita saat ini berusaha keras untuk melakukan perintah kuno Yesus, kita juga peka terhadap jarak budaya. Pembedaan-Nya haruslah mendasari pemikiran strategis kita tentang penginjilan seluruh dunia.

Penginjilan di lingkungan Yerusalem dan Yudea akan menjadi apa yang kita sebut penginjilan E-1, dimana satu-satunya penghalang yang harus diseberangi oleh pendengarnya dalam usaha penginjilan yang diusulkan adalah batasan antara komunitas Kristen dengan dunia luar sekarang juga, melibatkan bahasa dan budaya yang sama. Ini adalah penginjilan “tetangga dekat.” Siapa pun kita, dimanapun kita tinggal di dunia, kita semua memiliki beberapa tetangga dekat yang kepadanya kita bisa bersaksi tanpa mempelajari bahasa asing apa pun atau mempertimbangkan perbedaan budaya khusus. Ini adalah jenis penginjilan yang biasa kita bicarakan. Ini adalah jenis penginjilan yang dibicarakan oleh sebagian besar pertemuan-pertemuan penginjilan.

Salah satu perbedaan besar antara Kongres ini dengan semua kongres tentang penginjilan sebelumnya adalah penekanan yang ditentukan pada perbatasan lintas budaya dimana diperlukan untuk menginjili seluruh dunia. Mandat Kongres ini tidak memungkinkan kita untuk hanya fokus pada Yerusalem dan Yudea.

Lingkungan kedua yang ditunjuk oleh Yesus adalah lingkungan Samaria. Catatan Alkitab menunjukkan bahwa meskipun cukup mudah bagi Yesus dan para murid-Nya untuk memahami orang Samaria, orang Yahudi dan Samaria dipisahkan oleh perbatasan yang terdiri dari perbedaan dialek dan beberapa perbedaan budaya yang signifikan. Ini adalah penginjilan E-2, karena melibatkan lintas perbatasan kedua. Pertama, melibatkan lintas perbatasan yang kita tujukan dalam memaparkan penginjilan E-1, perbatasan antara gereja dan dunia. Kedua, melibatkan lintas perbatasan yang terbentuk oleh bahasa dan budaya yang berbeda yang signifikan (tetapi tidak monumental). Jadi kita menyebutnya penginjilan E-2.

Penginjilan E-3, seperti frase yang telah kita pakai, melibatkan bahkan jarak budaya yang lebih besar. Ini adalah jenis penginjilan yang diperlukan dalam lingkungan ketiga dari pernyataan Yesus, “ke ujung bumi.” Orang-orang perlu dijangkau dalam lingkungan ketiga ini tinggal, bekerja, dan berpikir dalam bahasa-bahasa dan pola-pola budaya yang sama sekali berbeda dengan milik penginjilnya. Rata-rata orang Kristen Yahudi, misalnya, tidak akan berpikir sama sekali untuk mulai berurusan dengan orang-orang melewati Samaria. Jika menjangkau orang Samaria tampak seperti menyeberangi dua perbatasan (maka disebut penginjilan E-2), menjangkau orang yang berbeda sama sekali pastilah tampak seperti menyeberangi tiga, dan masuk akal untuk menyebut tugas demikian sebagai penginjilan E-3.

Petrus, Paulus mengenal dunia Yunani dengan jauh lebih baik. Menggunakan terminologi yang telah kita terapkan, dimana tugas E-1 dekat, E-2 dekat, dan E-3 jauh (dalam jarak budaya, bukan geografis), kita dapat mengatakan bahwa menjangkau Yunani berarti bekerja pada jarak E-2 bagi Paulus; namun bagi Petrus itu berarti bekerja pada jarak E-3. Bagi Lukas, yang adalah seorang Yunani, menjangkau orang Yunani adalah bekerja hanya pada jarak E-1.Jadi, apa yang jauh bagi Petrus adalah dekatbagi Lukas. Dan sebaliknya: menjangkau orang Yahudi akan menjadi E-1 bagi Petrus, namun lebih mungkin E-3 bagi Lukas. Sangat mungkin bahwa Allah mengutus Paulus bukannya Petrus kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi sebagian karena Paulus lebih dekat secara budaya.

Dengan cara yang sama, Paulus, bekerja di antara orang-orang Yunani pada jarak E-2, dihalangi oleh perbandingan dengan “warga negara” E-1 seperti Lukas, Titus dan Epafroditus; dan, sebagai masalah strategi penginjilan, dia dengan bijak mengubah hal-hal menjadi pekerja “nasional” secepat yang dia bisa.Paulus sendiri, sebagai seorang Yahudi, sering memulai pekerjaannya di kota yang baru dalam rumah ibadah Yahudi dimana dia sendiri ada pada dasar E-1 dan dimana, dengan komunikasi daya maksmimum E-1, dia mampu berbicara tegas tanpa aksen non-Yahudi.

Mari kita terus terang mengakui di sini bahwa, semua hal lain adalah setara, pemimpin nasional selalu memiliki keunggulan komunikasi terhadap orang asing. Ketika penginjil pergi dari dataran Assam naik ke bukit Naga, pasti sangat jauh lebih sulit bagi mereka untuk memenangkan orang Naga Ao daripada bagi orang-orang Kristen Ao untuk melakukan hal yang sama, sebuah permulaan sudah dilakukan. Ketika misionaris Jerman pertama berkhotbah kepada orang-orang Batak, mereka pastilah mengalami masalah yang jauh lebih besar daripada ketika iman, sekali diberikan, ditularkan dari orang Batak ke orang Batak. Penginjilan E-1 – dimana seseorang berkomunikasi dengan bangsanya sendiri – jelas adalah jenis penginjilan yang paling ampuh. Orang-orang perlu mendengar Injil dalam bahasa mereka sendiri. Dapatkah kita percaya bahwa Allah menghendaki mereka untuk mendengarnya dari orang-orang yang berbicara tanpa aksen tiruan? Komunikator misionaris asing mungkin bagus, namun dia tidak cukup bagus.

Jika begitu penting bagi orang Amerika untuk memiliki 30 terjemahan dari Perjanjian Baru untuk memilih dari, dan bahkan “Living Bible,” yang memungkinkan Alkitab untuk berbicara dalam bahasa Inggris sehari-hari, maka mengapa harus banyak bangsa di seluruh dunia menderita bersama dengan Alkitab yang diterjemahkan bagi mereka oleh seorang asing, dan dengan demikian hampir pasti berbicara kepada mereka dalam susunan kata yang terputus-putus?

Inilah sebabnya mengapa sentakan kemajuan dalam penginjilan yang paling mudah dan jelas di dunia saat ini akan terjadi jika orang-orang percaya Kristen di semua bagian dunia digerakkan untuk menjangkau keluar gereja mereka dan memenangkan tetangga dekat secara budaya bagi Kristus. Mereka dapat melakukan itu lebih baik daripada misionaris asing. Ini merupakan penyimpangan tragis dari strategi Yesus jika kita terus mengutus misionaris untuk melakukan pekerjaan yang orang Kristen lokal dapat lakukan dengan lebih baik. Tidak ada alasan bagi seorang misionaris di mimbar ketika seorang warga negara dapat melakukan pekerjaan dengan lebih baik.

Tidak ada alasan bagi seorang misionaris melakukan penginjilan secara E-3, pada jarak E-3 dari orang-orang, ketika ada orang-orang Kristen lokal yang dengan efektif memenangkan orang yang sama sebagai bagian dari lingkungan E-1 mereka. Menurut kebenaran yang mendalam bahwa (hal-hal lain adalah setara) penginjilan E-1 lebih kuat daripada penginjilan E-2 atau E-3, mudah untuk melihat bagaimana beberapa orang telah salah menyimpulkan bahwa penginjilan E-3, karenanya, ketinggalan zaman, karena fakta yang hebat bahwa sekarang ada orang-orang Kristen si seluruh dunia. Dengan sudut pandang inilah banyak denominasi di Amerika Serikat, pada beberapa hal, bertindak berdasarkan alasan bahwa tidak dibutuhkan lagi misionaris jenis yang meninggalkan tempat asalnya pergi ke negeri asing dan berjuang dengan bahasa dan budaya yang sama sekali tidak dikenal.

Dasar pemikiran mereka adalah bahwa “sudah ada orang-orang Kristen di sana.” Dengan jatuhnya nilai dolas AS secara drastis dan menyusutnya anggaran gereja Amerika Serikat, beberapa denominasi Amerika Serikat harus membatsi kegiatan misionaris mereka ke perluasan yang luar biasa, dan mereka sebagian berusaha untuk menghibur diri sendiri dengan mengatakan bahwa inilah saatnya bagi gereja nasional untuk mengambil alih. Tanggapan kami tentang situasi ini, kita harus dengan senang setuju bahwa dimanapun ada orang Kristen yang menginjili dengan efektif, tidak ada yang lebih ampuh selain penginjilan E-1.

Namun, kebenaran tentang kekuatan superior penginjilan E-1 tidak boleh mengaburkan fakta yang jelas bahwa penginjilan E-1 secara harfiah tidak dimungkinkan, dimana tidak ada saksi dalam suatu bahasa tertentu atau kelompok budaya. Yesus, sebagai seorang Yahudi, tidak perlu bersaksi secara langsung kepada perempuan Samaria itu seandainya di sana sudah ada orang Samaria Kristen lokal yang telah menjangkau dia. Dalam kasus sida-sida Etiopia, kita dapat menduga bahwa mungkin lebih baik bagi orang Etiopia Kristen daripada Filipus untuk melakukan kesaksian, namun harus ada kontak pertama oleh orang non-Etiopia agar proses E-1 digerakkan. Pekerjaan awal dan berlipat ganda ini adalah tugas utama dari misionaris jika dia benar-benar memahami pekerjaannya.

Dia harus turun dan pemimpin nasional harus naik. Semoga kesaksian E-2 Yesus menggerakkan kesaksian E-1 di kota Samaria. Semoga kesaksian E-2 Filipus kepada orang Etiopia menggerakkan kesaksian E-1 kembali di Etiopia. Jika orang Etiopia itu adalah orang Etiopia Yahudi, komunitas E-1 kembali ke Etiopia mungkin tidak sangat besar, dan mungkin tidak menjangkau secara efektif orang-orang Etiopia non-Yahudi. Sesungguhnya, para ahli percaya bahwa gereja Etiopia saat ini adalah hasil dari dorongan misionaris setelahnya, yang menjangkau mereka dengan penginjilan E-3, jelas sampai kepada etnis Etiopia.

Dengan demikian, dalam Alkitab, seperti dalam ilustrasi kita sebelumnya dari sejarah misi modern, kita sampai pada kesimpulan yang sama.

E-1 ampuh, tetapi E-3 penting.

Pola induk dari perluasan gerakan Kristen adalah pertama untuk upaya khusus E-2 dan E-3 terhadap rintangan lintas budaya ke dalam komunitas baru dan untuk mendirikan denominasi yang kuat, berkelanjutan, dan penuh semangat menginjili, dan kemudian bagi gereja nasional itu untuk meneruskan pekerjaan pada tingkat E-1 yang benar-benar berkekuatan tinggi.Dengan demikian kita dipaksa untuk percaya bahwa sampai semua suku dan bahasa memiliki gereja menginjili yang kuat dan berkuasa di dalamnya, dan dengan demikian, saksi E-1 di dalamnya, upaya-upaya E-2 dan E-3 yang datang dari luar masih penting dan sangat mendesak. Dari sudut pandang ini, seberapa besar tugas yang tersisa?

PENGINJILAN LINTAS BUDAYA: LUASNYA TUGAS

Sayangnya, kebanyakan orang Kristen hanya memiliki ide yang tidak jelas tentang berapa banyak orang yang ada di dunia yang diantara mereka ada saksi E-1nya. Namun untungnya, studi persiapan untuk Kongres ini telah dengan serius memunculkan pertanyaan ini: apakah ada bahasa dan unit linguistik suku yang belum ditembus oleh Injil? Jika ya, dimana? Berapa banyak? Siapa yang bisa menjangkau mereka? Bahkan studi awal ini menunjukkan bahwa penginjilan lintas budaya masih harus menjadi prioritas paling tinggi. Jauh dari tugas yang sekarang ketinggalan zaman, kebenaran yang membukakan adalah bahwa setidaknya empat dari lima orang non-Kristen di dunia hari ini berada di luar jangkauan penginjilan E-1 orang Kristen siapa pun.

“Kebutaan Orang-orang”

Mengapa fakta ini tidak diketahui secara luas? Saya khawatir bahwa semua kegembiaraan kita mengenai fakta bahwa setiap negara di dunia telah ditembus, telah memungkinkan banyak orang beranggapan bahwa setiap budaya sekarang telah ditembus.

Kesalahpahaman ini adalah penyakit yang begitu luas tersebar sehingga pantas memiliki sebutan khusus. Mari kita menyebutnya “kebutaan orang-orang” – yaitu, kebutaan terhadap keberadaan orang-orang yang terpisah di dalam negara-negara – kebutaan, saya tambahkan, yang kelihatannya lebih umum di AS dan diantara misionaris AS daripada di tempat lain. Alkitab yang dengan tepat diterjemahkan, akan membuat ini gamblang bagi kita. “Bangsa-bangsa” yang sering disebut oleh Yesus adalah terutama kelompok-kelompok etnisdi dalam struktur politik tunggal dari pemerintahan Romawi. Berbagai bangsa yang ditunjukkan pada hari Pentakosta adalah untuk sebagian besar dari bangsa, bukan negara. Dalam Amanat Agung yang terdapat di Matius, ungkapan “menjadikan semua bangsa(ethne)” tidak membiarkan kita lolos setelah kita memiliki gereja di setiap negara – Allah menginginkan gereja yang kuat di dalam setiap bangsa!

“Kebutaan orang-orang” adalah apa yang menghalangi kita dari melihat sub-kelompok di dalam suatu negara yang signifikan untuk pengembangan strategi penginjilan yang efektif. Masyarakat akan terlihat sebagai mosaik yang rumit, meminjam frase McGavran, begitu kita sembuh dari “kebutaan orang-orang.” Namun sampai kita semua sembuh dari kebutaan jenis ini, kita mungkin keliru dengan keinginan yang masuk akal untuk gereja atau kesatuan nasional atau tujuan tidak logis dari keseragaman. Allah tampaknya menyukai keanekaragaman jenis tertentu.Namun dalam hal apa pun keanekaragaman ini berarti penginjil harus bekerja lebih keras. Potongan-potongan etnis dan budaya yang kecil dari mosaik rumit masyarakat manusia adalah sub-divisi yang memisahkan empat dari lima orang non-Kristen di dunia hari ini dari kontak E-1 oleh orang-orang Kristen yang ada. Luasnya tugas lintas budaya dengan demikian terlihat dalam fakta bahwa di Afrika dan Asia saja, sebuah perhitungan menyatakan bahwa ada 1.993 juta orang hampir tanpa saksi. Luasnya tugas itu, bagaimanapun, tidak hanya terletak pada ukuran besarnya.

Kebutuhan akan Penginjilan E-2 di Amerika Serikat

Masalahnya lebih serius daripada menerjemahkan ulang Amanat Agung sedemikian rupa sehingga bangsa-bangsa, bukan negara-negara, menjadi target penginjilan. Luasnya tugas lebih lanjut ditegaskan oleh rumitnya tugas E-2 dan E-3 yang lebih besar. Apakah kita di Amerika, misalnya, siap dengan adanya fakta bahwa sebagian besar orang non-Kristen belum dimenangkan bagi Kristus (bahkan di negara kita) tidak akan cocok masuk ke dalam jenis gereja yang sekarang kita miliki? Sebagian besar gereja-gereja Amerika di bagian Utara adalah kelas menengah, dan pekerja berkerah biru tidak akan mendekat pada mereka. Kebaktian kebangunan rohani mungkin menarik ribuan orang datang ke auditorium dan memenangkan orang-orang di rumah-rumah mereka melalui televisi, namun sebagian besar petobat baru, kecuali sudah terbiasa dengan gereja, dapat pergi begitu saja karena tidak ada gereja dimana mereka akan merasa diterima.Orang-orang Kristen Amerika zaman ini bisa menunggu selamanya di bangku dunia kelas menengah mereka yang nyaman, untuk datang kepada Kristus dan bergabung dengan mereka. Namun kecuali mereka mengadopsi metode E-2 dan mengejar orang-orang ini dan juga menolong mereka mendapatkan gereja mereka sendiri, penginjilan di Amerika akan menghadapi, dan sedang menghadapi, hasil yang terus semakin berkurang.

Anda mungkin mengatakan bahwa masih ada banyak orang yang tidak pergi ke gereja dari latar belakang budaya yang sama seperti orang-orang di dalam gereja. Hal ini benar. Namun ada banyak, lebih banyak orang dari latar belakang budaya yang berbeda, yang bahkan jika mereka menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh, tidak akan merasa nyaman berada di gereja-gereja yang ada.

Jika AS – dimana Anda dapat berkendara 3.000 mil dan masih bertutur bahasa yang sama – tetaplah sebuah mosaik budaya dipandang secara penginjilan, maka pastilah sebagian besar negara lain menghadapi masalah serupa. Bahkan di AS, stasiun radio lokal memakai lebih dari 40 bahasa yang berbeda. Selain perbedaan-perbedaan bahasa, ada banyak perbedaan sosial dan budaya yang sama signifikannya. Perbedaan bahasa bukan berarti rintangan tertinggi bagi komunikasi.

Kebutuhan, dalam penginjilan E-2, bagi seluruh kelompok ibadah yang baru ditegaskan melalui fenomena umat Yesus, yang telah mendirikan ribuan jemaat baru. Gerakan Umat Yesus yang besar di AS tidak bertutur bahasa yang berbeda sebanyak melibatkan gaya hidup yang sangat berbeda dan dengan demikian gaya beribadah yang berbeda.

Banyak gereja Amerika telah berusaha untuk menggunakan musik gitar dan banyak karakteristik informasl dari Gerakan Yesus, namun ada batasan yang padanya satu jemaat dapat berjalan dengan bertutur banyak bahasa dan menerapkan banyak gaya hidup. Siapa yang tahu bahwa apa yang telah terjadi pada banyak “pemuda berskuter” dan “musisi rock” yang telah dimenangkan sebagai hasil dari Kebangunan Rohani London oleh Billy Graham?

Di satu sisi, gereja-gereja yang ada tidak dipahami secara budaya oleh orang-orang demikian, dan di sisi lain, mungkin di sana pelaksanaan metode E-2 belum memadai sehingga menjadikan para petobat itu masuk ke jemaat yang benar-benar baru. Aspek penginjilan E-2 inilah yang membuat tugas lintas budaya semakin sulit. Namun itu perlu. Mari kita mengambil satu lagi contoh yang terkenal.

Ketika John Wesley menginjili para penambang Inggris, hasilnya dilestarikan dalam jemaat beribadah yang benar-benar baru. Mungkin tidak akan pernah terjadi sebuah gerakan Metodis jika dia tidak mendorong orang-orang kelas menengah ke bawah ini untuk bertemu dalam perkumpulan Kristen mereka sendiri, menyanyikan jenis lagu mereka sendiri dan bergaul dengan kalangan mereka sendiri. Selanjutnya, selain dari teknik E-2 ini, orang-orang demikian tidak akan bisa memenangkan orang-orang lain dan memperluas gerakan Kristen dalam tingkat masyarakat yang baru ini pada kecepatan yang mengagumkan tersebut.

Hasil-hasilnya mengguncang dan mengubah Inggris secara permanen. Ini juga mengguncang gereja-gereja yang ada. Tidak terlalu banyak orang yang menyukai hubungan Wesley dengan para penambang. Lebih sedikit yang masih setuju bahwa para penambang harus memiliki gereja yang terpisah!

Sebuah Perbedaan Prosedural yang Jelas

Pada titik ini kita mungkin dapat melakukan dengan baik untuk membuat perbedaan prosedural yang jelas antara penginjilan E-1 dan E-2. Kami telah mengamati bahwa lingkungan E-2 dimulai dimana orang-orang yang telah Anda jangkau adalah dari latar belakang yang cukup berbeda dari orang-orang dalam gereja-gereja yang sudah ada sehingga mereka perlu untuk membentuk jemaat beribadah mereka sendiri untuk dengan terbaik memenangkan orang lain dari kalangan mereka sendiri. Yoh 4 mengatakan kepada kita bahwa “banyak orang Samaria dari kota itu yang percaya kepada-Nya (Yesus) karena kesaksian perempuan itu.”

Yesus menginjili perempuan itu bekerja dengan kepekaan yang besar sebagai saksi E-2; dia berbalik dan menjangkau orang-orang lain di kotanya dengan komunikasi E-1 yang efisien. Misalkan Yesus mengatakan kepadanya bahwa dia harus pergi dan beribadah bersama orang-orang Yahudi. Bahkan jika dia mematuhi-Nya dan pergi beribadah dengan orang-orang Yahudi, dia akan berada pada dasar yang sangat merintangi dalam memenangkan orang-orang lain di kotanya. Yesus benar-benar telah menghindari masalah mengenai dimana harus beribadah dan dengan jarak seberapa berhubungan dengan orang-orang Kristen.

Itu akan muncul kemudian. Jadi orang-orang Samaria yang percaya pada kesaksian perempuan kemudian membuat langkah tambahan dengan mengundang seorang Yahudi untuk berada bersama mereka selama dua hari. Dia pun tidak berusaha membuat mereka menjadi orang Yahudi. Dia tahu Dia sedang bekerja pada jarak E-2, dan bahwa buah-buahnya dapat dilestarikan dengan yang terbaik (dan orang-orang terbaik tambahan akan dimenangkan) jika mereka diperbolehkan untuk membangun persekutuan iman mereka sendiri.

Perbedaan lebih lanjut mungkin bisa ditarik antara jenis perbedaan budaya yang Yesus kerjakan di Samaria dan jenis perbedaan sebagai hasil dari apa yang disebut “kesenjangan generasi.” Namun itu benar-benar tidak masalah, dalam penginjilan, apakah jaraknya secara budaya, linguistik, atau perbedaan usia. Tidak masalah apakah alasan untuk perbedaan atau tetapnya perbedaan itu, atau kebenaran yang dirasa atau kesalahan dari perbedaan, dinamika prosedural teknik penginjilan E-2 cukup mirip. Lingkungan E-2 dimulai bilamana perlu untuk mendirikan jemaat yang baru. Di Filipina kami mendengar kaum muda mendirikan gereja-gereja. Di Singapura kita tahu 10 gereja yang baru-baru ini mendirikan jemaat pemuda yangmelepaskan diri.

Semoga, pada akhirnya, jemaat yang fokus pada usia akan mendekat pada gereja-gereja yang ada, namun selama ada kesenjangan generasi dengan proporsi yang serius, persekutuan khusus seperti itu mampu memenangkan lebih banyak pemuda yang terpisah dengan benar-benar memperbolehkan berfungsi sendiri.

Ini adalah tempat yang baik untuk memulai. Apapun yang kita putuskan tentang jenis penginjilan E-2 yang memungkinkan orang-orang yang berbeda untuk bertemu secara terpisah karena perbedaan usia yang sementara, faktor-faktor utama dalam luasnya tugas lintas budaya adalah perbedaan-perbedaan budaya yang lebih mendalam dan mungkin permanen.

Di sini, juga, beberapa orang akan selalu mengatakan bahwa penginjilan lintas budaya yang sejati bertindak terlalu jauh. Pada titik ini kita harus mengambil resiko disalahmengerti supaya benar-benar jujur. Di seluruh dunia, usaha penginjilan khusus terus dilakukan yang seringkali menghancurkan rintangan lintas budaya. Orang-orang dari budaya lain ini dimenangkan, kadang-kadang hanya satu pada suatu waktu, kadang-kadang dalam kelompok kecil. Masalahnya bukan pada memenangkan mereka; masalahnya ada pada hambatan budaya untuk tindak lanjut yang tepat. Gereja-gereja yang ada dapat bekerja sama sampai pada sebuah maksud dengan kampanye penginjilan, namun mereka tidak mempertimbangkan organisasi penginjilan yang memungkinkan untuk tinggal lebih lama mengumpulkan orang-orang ini dalam gereja-gereja mereka sendiri.

Mereka keliru berpikir bahwa bergabung bersama Kristus harus termasuk bergabung dengan gereja-gereja yang ada. Namun jika metode E-2 yang tepat digunakan, para petobat yang sedikit ini, yang hanya akan dianggap agak aneh bagi jemaat yang ada, dapat menjadi pemasukan kehidupan yang baru ke dalam kumpulan masyarakat yang benar-benar baru dimana gereja tidak ada sama sekali!

Lingkungan M dan Hindu

Selain dari sektor dataran Tiongkok, dua lingkungan terbesar dimana ada kekurangan tragis dari penginjilan lintas budaya yang efektif adalah M dan Hindu. Kata-kata penutup kami akan berpusat dalam dua kelompok ini yang secara keseluruhannya, berjumlah lebih dari satu milyar orang.

Sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, seorang petobat M tidak akan merasa diterima di Gereja Presbiterian biasa di Pakistan. Kecurigaan selama berabad-abad di kedua pihak M-Hindu menjadikannya hampir mustahil bagi M, bahkan petobat M, untuk disambut ke dalam gereja masyarakat yang sebelumnya adalah Hindu. Orang-orang Pakistan Kristen sekarang (hampir semua sebelumnya Hindu) belum sama sekali berhasil dalam mengintegrasikan petobat M ke dalam jemaat mereka.

Selain itu, tidak mungkin bahkan untuk terjadi pada mereka bahwa M dapat bertobat dan membetuk jemaat sendiri yang terpisah. Tragedi yang besar adalah bahwa jenis kebuntuan penundaan serius penginjilan sepanjang baris E-2 ini dimanapun di dunia terdapat 664 juta M. Jauh di sebelah timur Mekkah, di bagian-bagian tertentu Indonesia, cukup banyak M telah menjadi Kristen sehingga mereka tidak dipaksa satu demi satu untuk bergabung dengan jemaat Kristen dari budaya lain.

Jauh di sebelah barat Mekkah, di tengah-tengah Afrika pada beberapa pulau di Danau Chad, kami mendapat laporan bahwa beberapa orang yang dulunya M, dan sekarang Kristen, masih berdoa kepada Kristus lima kali sehari dan beribadah di gereja Kristen pada hari Jumat, hari ibadah M. Dua contoh terpisah ini menunjukkan bahwa M dapat menjadi Kristen tanpa harus mengalami terputusnya budaya yang serius dan sewenang-wenang.

Alam kesempatan baru yang luas mungkin terdapat di India, juga, dimana prasangka lokal dalam banyak kasus dapat mencegah penginjilan “tetangga dekat” yang efektif. Orang India yang berasal dari jarak yang lebih jauh mungkin dengan metode E-2 atau E-3 bisa melepaskan stigma lokal dan mendirikan gereja di dalam 100 atau lebih kelas-kelas sosial yang belum tersentuh. Ini merupakan kebodohan bagi penginjil untuk mengabaikan faktor prasangka demikian, dan keberadaan mereka sangat memperluas tugas kita.

Prasangka semacam ini menambah kepada jarak budaya demikian hambatan penginjilan E-2, dimana prasangkanya dalam, sering lebih sulit daripada penginjilan E-3. Dengan kata lain, secara ilmiah, orang Kristen yang berpendidikan tinggi dari Nagaland atau Kerala mungkin lebih berhasil dalam menjangkau orang-orang Hindu kelas menengah di India Selatan dengan Injil daripada orang Kristen dari kelas rendah yang telah tumbuh di daerah itu dan bertutur bahasa yang sama, namun dinodai oleh hubungan-hubungan lokal.

Tetapi siapa yang berani menunjukkan ini? Sungguh ironis bahwa orang Kristen nasional di seluruh dunia non-Barat semakin menyadari bahwa mereka tidak perlu kebarat-baratan untuk menjadi Kristen, namun mereka mungkin dalam beberapa hal menjadi lambat untuk merasakan bahwa tantangan penginjilan lintas budaya mengharuskan mereka untuk memungkinkan orang lain di daerah mereka sendiri untuk memiliki kebebasan penentuan nasib yang sama dalam mendirikan gereja-gereja mereka sendiri yang berbeda secara budaya.

Dalam hal apapun, peluang-peluang sama luasnya seperti tugas. Jika 600 juta M menantikan sebuah penginjilan yang lebih dicerahkan, ada juga 500 juta umat Hindu yang saat ini menghadapi hambatan monumental untuk menjadi Kristen yang lain dari faktor rohani yang mendalam yang melekat dalam Injil. Salah seorang pengamat yakin bahwa 100 juta Hindu kelas menengah menantikan peluang untuk menjadi Kristen – namun tidak ada gereja bagi mereka untuk dimasuki yang menghargai kebiasaan diet dan adat istiadat mereka. Apakah kerajaan Allah itu makanan dan minuman?

Untuk sampai pada upaya khusus yang dibutuhkan oleh penginjilan E-2 dan E-3 adalah untuk tidak menurunkan standar dan menjadikan Injil mudah – untuk memisahkan unsur-unsur yang tidak relevan dan untuk membuat Injil menjadi jelas. Mungkin setiap orang tidak dapat melakukan jenis pekerjaan khusus ini. Benar, lebih banyak penginjil E-1 yang akhirnya akan dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas itu. Namun prioritas tertinggi dalam penginjilan hari ini adalah untuk mengembangkan pengetahuan dan kepekaan lintas budaya terlibat dalam penginjilan E-2 dan E-3. Jika diperlukan, penginjil dari jauh harus dipanggil ke dalam tugas tersebut.

Tidak ada yang harus membutakan kita terhadap fakta penting yang luas bahwa setidaknya empat per lima dari orang non-Kristen di dunia hari ini tidak akan pernah memiliki peluang terang-terangan untuk menjadi Kristen kecuali orang Kristen itu sendiri pergi lebih dari setengah jalan dalam tugas-tugas khusus penginjilan lintas budaya. Berikut adalah prioritas utama kami.

PERTANYAAN TENTANG SIFAT TEOLOGI DARI TUGAS

Pertanyaan teologis utama, muncul lebih sering daripada pertanyaan yang lain, adalah begitu mendalam sehingga saya merasa harus menghabiskan sisa waktu saya untuknya. Pertanyaan dinyatakan dalam banyak cara dalam makalah tanggapan Anda, namun pada dasarnya adalah ini: “Akankah kesatuan di dalam Kristus musnah jika kita mengikuti konsep penginjilan lintas budaya yang mau mendirikan gereja-gereja terpisah bagi kelompok-kelompok yang berbeda secara budaya di dalam wilayah geografis yang sama?”

Hanya dengan bersandar dengan rendah hati pada Roh Kudus untuk menghormati Firman Allah di atas pengaruh sekuler yang padanya kita semua tunduk, bahwa saya berani melanjutkan dengan sebuah perspektif yang saya sendiri tidak pahami atau terima sampai beberapa tahun yang lalu. Saya dibesarkan di Amerika Serikat, dimana bagi banyak orang, integrasi adalah hampir seperti agama sipil, dimana orang-orang seperti itu hampir secara otomatis menganggap bahwa pada akhirnya semua orang akan bertutur bahasa Inggris dan benar-benar tidak harus bertutur bahasa lainnya.

Bagi saya, keanekaragaman budaya di antara negara-negara merupakan sebuah gangguan, namun keanekargaman budaya di dalam sebuah negara hanyalah sebuah kejahatan yang harus diatasi. Saya tidak berpikir untuk mengecualikan siapapun dari gereja manapun (dan saya masih tidak), namun saya secara tidak sadar menganggap bahwa hal terbaik yang bisa terjadi pada orang kulit hitam, kulit putih, Chicano, dll., adalah bahwa mereka semua akhirnya akan sampai menjadi orang kulit putih, Anglo-Saxon, gereja Protestan, dan belajar untuk melakukan hal-hal dengan cara yang saya rasa paling tepat.

Mengikuti jenis budaya Amerika ini – Kekristenan, banyak misionaris telah beranggapan bahwa harus hanya ada satu gereja nasional di sebuah negara – bahkan jika ini berarti tidak ada satupun untuk sub-kelompok tertentu. Misionaris-misionaris demikian, dalam segala kesungguhan, telah beranggapan bahwa pluralisme denominasi dalam tempat asal mereka sendiri hanyalah sebuah dosa yang harus dihindari. Mereka telah menganggap bahwa Baptis Selatan tidak diperlukan di India Utara, meskipun, sesungguhnya, di Boston hari ini sebagian besar gereja-gereja Anglo telah duduk-duduk menunggu orang Arab dan Jepang untuk datang ke gereja mereka, dan itu membuat Baptis Selatan pergi ke Amerika Serikat bagian Utara dan mendirikan gereja-gereja orang Arab dan Jepang, gereja-gereja Portugis, dan gereja-gereja Yunani, dan gereja-gereja Polandia, tepat di bawah hidung ratusan kemauan baik gereja Anglo yang telah bersabar menantikan orang-orang ini untuk menerima cara hidup Anglo. Dengan satu atau dua pengecualian, gereja-gereja Anglo, dengan segenap semangat penginjilan mereka, sama sekali tidak memiliki wawasan untuk melakukan jenis penginjilan E-2 dan E-3 ini.

Kesatuan Kristen dan Kebebasan Kristen

Bagi saya sendiri, setelah bertahun-tahun bergumul dengan pertanyaan ini, saya sekarang tidak kurang peduli daripada sebelumnya mengenai kesatuan dan persekutuan gerakan Kristen menyeberangi semua garis etnis dan budaya, namun saya sadar sekarang bahwa kesatuan Kristen tidak bisa sehat jika melanggar kebebasan Kristen. Dalam hal penginjilan, kita harus bertanya apakah upaya untuk memperluas, misalnya di Pakistan, bentuk eksternal ke dalam budaya M lebih penting daripada membuat Injil jadi jelas untuk orang-orang tersebut di dalam budaya mereka sendiri.

Bisakah kita tidak mengkondisikan keinginan kita untuk keseragaman dengan keinginan yang lebih besar untuk memberitakan Injil dengan efektif? Saya pribadi menjadi percaya bahwa kesatuan tidak harus menuntut keseragaman, dan saya percaya bahwa pasti ada semacam keanekaragaman yang sehat dalam masyarakat manusia dan dalam gereja Kristen dunia. Saya melihat Gereja dunia sebagai berkumpulnya sebuah simfoni orkestra besar dimana kita tidak membuat setiap orang yang baru datang bermain biola supaya cocok dengan yang lainnya. Kita mengundang orang-orang datang untuk memainkan lembaran musik yang sama – Firman Allah – namun memainkan alat musik mereka sendiri, dan dengan begini akan memunculkan suara surgawi yang akan berkembang dalam kemegahan dan kemuliaan Allah ketika masing-masing alat musik ditambahkan.

Contoh Rasul Paulus

Namun beberapa dari kalian mengatakan, “Baik, jika itu yang Anda maksud, bagaimana dengan Rasul Paulus? Apakah dia mendirikan jemaat terpisah untuk tuan dan budak?” Saya benar-benar tidak tahu. Saya kira tidak. Namun tidak berarti bahwa itu tidak terjadi.

Dalam monografi baru-baru ini oleh Paul Minear berjudul The Obedience of Faith, penulis menunjukkan bahwa di Roma mungkin ada lima jemaat Kristen yang terpisah, berjumlah total 3.000 dan surat Paulus kepada jemaat di Roma sebenarnya ditulis untuk sekelompok gereja di kota Roma. Dia juga menunjukkan bahwa gereja-gereja sangat berbeda satu dengan yang lain, beberapa terdiri dari hampir semuanya orang Kristen Yahudi, dan yang lain (mayoritas) hampir semuanya orang Kristen bukan Yahudi.

“Daripada membayangkan satu jemaat Kristen, oleh karena itu, kita harus selalu memperhitungkan kemungkinan bahwa di dalam daerah perkotaan dapat ditemukan bentuk-bentuk komunitas Kristen yang beragam, dan mungkin juga yang asing, seperti gereja-gereja di Galatia dan di Yudea. “Namun apapun kasus yang di Roma, Paulus dalam perjalanannya selalu berurusan dengan fenomena gereja rumah, dimana seluruh rumah tangga, tuan dan budak, sangat mungkin beribadah bersama-sama.

Kita tidak bisa percaya dia pernah memisahkan orang-orang. Namun, kita tidak tahu bahwa dia bersedia untuk mengadopsi di tempat-tempat yang berbeda sebuah pendekatan lain yang radikal, sebagaimana dia katakan, “bagi orang-orang yang berada di bawah hukum Taurat dan bagi mereka yang tidak di bawah hukum Taurat.” Ketika, misalnya, dia mendirikan jemaat yang tampaknya bukan Yahudi di antara orang-orang Galatia, jelaslah berbeda, mungkin secara radikal berbeda dari jemaat Yahudi di tempat lain.

Kita tahu ini karena orang Kristen Yahudi mengikuti Paulus ke orang-orang Galatia dan berusaha untuk membuat mereka menyesuaikan diri dengan pola Kristen Yahudi. Galatia adalah kasus yang jelas dimana tidak mungkin bagi Paulus untuk tunduk bersamaan pada ketentuan gaya hidup Kristen Yahudi sekaligus pada pola jemaat yang jelas-jelas Yunani (atau mungkin Celtic).

Surat Paulus kepada jemaat Galatia, selanjutnya, menunjukkan kepada kita bagaimana bertekadnya dia untuk memungkinkan orang-orang Kristen Galatia untuk mengikuti gaya hidup Kristen yang berbeda. Jadi, sementara kita tidak memiliki catatan tentang umatnya yang dipaksa untuk bertemu secara terpisah, kita berhadapan dengan semua keberanian suci Paulus menentang siapapun yang mau berusaha untuk mematenkan satu pola hidup Kristen secara normatif melalui imperialisme budaya yang bisa mencegah orang-orang dari menggunakan bahasa dan budaya mereka sendiri sebagai kendaraan untuk beribadah dan bersaksi.Di sini, kemudian, adalah kasus yang jelas tentang seorang pria dengan perspektif penginjilan lintas budaya melakukan segalanya di dalam kuasanya untuk menjamin kebebasan dalam Kristus kepada para petobat yang berbeda dari latar belakang sosialnya sendiri.

Hal yang sama ini terlihat ketika Paulus menentang Petrus di Antiokhia. Petrus adalah seorang Yahudi Galilea yang mungkin sampai batas tertentu dwi-budaya. Dia mungkin setidaknya telah bisa memahami terutama gaya hidup Yunani dari gereja Antiokhia. Memang, dia tampaknya cocok sampai saat orang Kristen Yahudi lain muncul. Pada titik ini Petrus juga menemukan bahwa dalam situasi tertentu dia harus memilih antara mengikuti kebiasaan Yahudi atau Yunani. Pada titik ini dia menjadi ragu-ragu. Apakah dia tidak memiliki Roh Allah? Apakah dia tidak memiliki kasih Allah? Atau apakah dia gagal untuk memahami cara kasih Allah? Petrus tidak mempertanyakan validitas dari sebuah jemaat Yunani. Petrus telah mengakui ini sebelum rekan-rekan Yahudi datang. Intinya adalah Petrus terluka hatinya untuk orang lain untuk mengenal dia sebagai orang yang bisa bepindah dari satu komunitas ke komunitas yang lain.

Apa artinya ini bagi kita hari ini adalah cukup jelas. Sebenarnya ada periode dalam Perjanjian Baru dua komunitas orang percaya yang berbeda secara signifikan. Petrus dianggap sebagai rasul untuk yang bersunat dan Paulus untuk yang tidak bersunat. Petrus lebih memihak kepada orang-orang Yahudi, dan tidak diragukan kesulitan menjelaskan kepada orang Yahudi tentang pengalamannya di rumah keluarga Kornelius, yaitu penemuannya bahwa jemaat Yunani harus dianggap sah. Paulus, sebaliknya, mampu berpihak pada jemaat Yunani. Mungkin mereka pada akhirnya adalah target utama misinya, meskipun dalam tempat yang diberikan dia selalu mulai dengan orang-orang Yahudi.

Kesamaan dari Keanekaragaman

Satu petunjuk untuk hari ini adalah fakta bahwa dimana Paulus menemukan beberapa orang Kristen untuk menjadi terlalu teliti mengenai makanan tertentu, dia menasihati orang-orang di situasi itu untuk mematuhi dengan ketat kepekaan terhadap mayoritas. Namun, selalu sulit untuk membuat paralel yang tepat pada situasi modern. Situasi Perjanjian Baru akan lebih mudah dibandingkan dengan India modern hari ini adalah kasusnya bahwa hanya orang Kristen di India yang adalah Brahmana (dan anggota lainnya dari kasta menengah) dengan diet mereka yang sangat ketat.

Maka kita akan membayangkan orang Kristen Brahmana mendapati bahwa sulit untuk memungkinkan kelompok yang kurang membatasi makan daging untuk menjadi Kristen; namun situasi yang sebenarnya hampir kebalikannya. Di India hari ini mereka yang makan daginglah yang menjadi Kristen, dan masalahnya adalah bagaimana menerapkan strategi misi Paulus pada situasi ini. Berkenaan dengan pembatasan makanan, seolah-olah para Brahmana ada “di bawah hukum,” bukan orang Kristen sekarang. Dalam situasi ini dapatkah kita bayangkan Paulus mengatakan, “Bagi mereka yang ada di bawah hukum Taurat aku akan menjadi orang yang ada di bawah hukum Taurat jika dengan semua itu aku bisa memenangkan mereka”? Bisakah kita mendengar dia mengatakan sebagai penginjil E-2 atau E-3, “Jika daging membuat saudaraku tersinggung, aku tidak akan makan daging“? Dapatkah kita mendengar dia membela kelompok ibadah diantara para Brahmana terhadap saran atau permintaan bahwa mereka harus mengubah diet mereka atau bergabung dengan jemaat dari yang gaya hidupnya berbeda jauh supaya dapat diterima sebagai orang Kristen?

Terhadap tuduhan bahwa dia membagi gereja Kristus, bisakah kita mendengar Paulus mendesak bahwa “di dalam Kristus tidak ada orang Yahudi atau Yunani, kasta rendah atau kasta tinggi”? Bukankah ini kekuatan yang sebenarnya dari pernyataannya yang berulang kali bahwa jenis orang yang berbeda ini, mengikuti pola budaya mereka yang berbeda, semuanya sama-sama diterima oleh Allah? Apakah dia benar-benar sedang mengumumkan kebijakan tentang integrasi lokal, atau dia menekankan pada kesetaraan keanekaragaman?

Perhatikan baik-baik bahwa perspektif ini tidak menegakkan (atau bahkan memungkinkan) sebuah kebijakan pemisahan, maupun jenis peringkat Kristen dalam kategori kelas pertama dan kedua. Ini lebih menjamin penerimaan yang sama terhadap tradisi-tradisi yang berbeda. Ini adalah kebijakan kerasulan yang jelas menentang pemaksaan orang Kristen dari satu gaya hidup untuk menjadi pengikut terhadap pola budaya lain. Inibukan masalah yang tidak pokok dalam Perjanjian Baru. Sunat yang sesungguhnya adalah sunat hati. Baptisan yang sesungguhnya adalah baptisan hati. Ini adalah tentang iman, bukan pekerjaan, kebiasaan, atau ritual. Dalam Kristus ada kemerdekaan dan kebebasan dalam hal ini – orang-orang harus bebas untuk mempertahankan atau meninggalkan bahasa dan gaya hidup asli mereka.

Paulus tidak akan mengijinkan siapapun untuk mengagungkan sunat atau tidak disunat. Dia benar-benar tidak memihak. Dia juga banyak disalahmengerti. Masalah utama Paulus adalah dalam hal memperoleh penerimaan dari orang Yahudi, dan itu adalah orang Yahudi Asia, mungkin orang Kristen, yang menunjukkan dalam bait Allah dan dengan demikian akhirnya menyebabkan kemartirannya karena kepercayaannya dalam kebebasan yang terpisah dari tradisi Kristen Yunani. Janganlah ada orang yang berusaha untuk menjadi misionaris dalam tradisi Rasul Paulus mengira bahwa bekerja diantara dua budaya akan mudah untuk dilakukan. Namun dia mendapat semangat dalam fakta bahwabahaya dari profesi adalah lebih daripada diberikan garis tepioleh tujuan urgen misionaris dari penginjil lintas budaya.

Jika, misalnya, penginjil lintas budaya mendorong para anggota keluarga Brahmana untuk mulai beribadah di rumah mereka sendiri, apakah dia bersikeras bahwa mereka mengundang orang-orang dari kota seberang ke pertemuan pertama mereka? Di sisi lain, setiap Brahmana yang menjadi seorang Kristen dan yang mulai memahami Alkitab akan segera menyadari, apakah itu semuanya jelas sebelumnya atau tidak, bahwa dia sekarang menjadi bagian dari keluarga dunia yang di dalamnya terdapat banyak suku dan bahasa – memang, menurut Kitab Wahyu (Why 7:9), jenis keanekaragaman ini akan berlanjut terus sampai akhir zaman. Ketika penginjil lintas budaya memungkinkan pengembangan jemaat Brahmana, dengan demikian dia tidak mengusulkan pemisahan Brahmana dari gereja dunia.

Dia tidak mengatakan bahwa orang Kristen Brahmana menghindari orang Kristen lain, namun bahwa para Brahmana itu dimasukkan ke dalam gereja dunia. Dia hanya menegaskan kebebasan mereka di dalam Kristus untuk mempertahankan unsur-unsur gaya hidup mereka yang tidak bertentangan dengan Injil Kristus. Dia tidak menambah keterasingan mereka. Dia memberi mereka Firman Allah yang merupakan “kunci maling” untuk penghapusan terakhir dari segala macam prasangka, dan sudah menyatakan diri mereka ke dalam keluarga Kristen dunia yang mencakup semua bangsa, suku dan bahasa sebagai yang setara.

Persatuan dan Keseragaman

Sekarang, saya menyesal bahwa hal ini begitu sulit, dan saya tidak akan memulainya jika hal itu tidak begitu signifikan bagi strategi-strategi penginjil praktis yang harus kita miliki jika kita hendak pergi untuk memenangkan dunia bagi Kristus. Saya bahkan tidak akan mengemukakannya. Namun saya harus mengatakan, saya percaya bahwa masalah ini adalah satu masalah yang paling penting dalam penginjilan hari ini.

Banyak orang bertanya apa yang saya maksudkan dengan nilai strategis dari pembangunan gereja kaum muda. Penting untuk menyadari situasi pemuda adalah sama tingginya dengan situasi yang baru saja kita diskusikan. Hal ini tidak berarti sebuah kasus dimana kami menunjukkan bahwa orang-orang muda tidak diperbolehkan dalam ibadah orang dewasa. Kami tidak menyarankan pemisahan kaum muda.

Gereja-gereja kaum muda bukan tujuan, tetapi sarana. Kami tidak mengabaikan pemikiran bahwa orang-orang muda dan tua harus sering bersama-sama dalam ibadah yang sama. Kami hanya mendesak, dengan apa yang saya harap yaitu intuisi kerasulan, bahwa orang-orang muda memiliki kebebasan dalam Kristus untuk bertemu bersama di antara mereka sendiri jika mereka memilih untuk itu, dan terutama jika ini memungkinkan mereka menarik orang muda lain yang mungkin tidak akan datang kepada Kristus di dalam ibadah segala umur.

Ini adalah fakta yang mengherankan bahwa jenis penginjilan peka budaya yang telah saya bicarakan telah selalu diterima dimanapun orang-orang terisolasi secara geografis. Tidak ada yang keberatan jika orang Kristen Jepang berkumpul di Tokyo, atau orang Kristen bertutur bahasa Spanyol berkumpul di Meksiko, atau orang Kristen bertutur bahasa Tionghoa berkumpul di Hong Kong. Namun ada kebingunan dalam pikiran banyak orang apakah orang Kristen Jepang, Spanyol dan Tiongkok harus diperbolehkan atau didorong untuk berkumpul di Los Angeles.

Sangat khusus, apakah strategi penginjilan yang baik untuk membangun jemaat terpisah di Los Angeles untuk menarik orang-orang seperti itu? Apakah orang non-Kristen bertutur bahasa Kanton membutuhkan jemaat bertutur bahasa Kanton untuk menarik mereka kepada iman dan persekutuan Kristen?

Jika Anda berbicara dengan orang-orang yang berbeda, Anda akan mendapatkan jawaban-jawaban yang berbeda. Menurut pendapat saya, pertanyaan tentang strategi penginjilan dalam pembentukan jemaat yang terpisah ini harus dianggap sebuah wilayah kebebasan Kristen, dan diberikan murni berdasarkan apakah atau tidak memungkinkan, Injil disajikan secara efektif kepada lebih banyak orang – yaitu, apakah itu strategis secara penginjilan.

Beberapa setuju sejauh mengabulkan pemisahan jemaat berdasarkan bahasa, namun ragu-ragu ketika perbedaan-perbedaan di antara orang-orang adalah sosial dan non-linguistik. Entah bagaimana mereka merasa bahwa orang-orang mungkin dimaklumi untuk bertemu secara terpisah jika bahasa mereka berbeda, namun bahwa Injil mendesak kita untuk mengabaikan semua perbedaan budaya lain. Banyak orang secara harfiah tidak terima dengan pemikiran bahwa jemaat lokal secara sengaja akan berusaha untuk menarik orang-orang dari tingkat sosial tertentu.

Namun, sementara tidak ada yang harus dikeluarkan dari gereja manapun dalam keadaan apapun, faktanya adalah dimana orang dapat memilih asosiasi gereja mereka dengan bebas, mereka cenderung untuk memilah sendiri menurut cara hidup mereka sendiri dengan cukup konsisten. Namun ini haruslah benar-benar merupakan pilihan bebas mereka sendiri. Kita tidak pernah menyarankan sebuah pemisahan yang dipaksakan. Sekalipun kita memiliki keanekaragaman yang kaya, mari kita memupuk persatuan dan persekutuan diantara jemaat-jemaat sama seperti kita sekarang lakukan di antara keluarga-keluarga daripada untuk mengajarkan kepada semua orang tentang ibadah seperti orang-orang Anglo-Amerika.

Mari kita merasa bangga bahwa keluarga Kristen dunia sekarang telah mencakup perwakilan-perwakilan dari bahasa dan budaya yang lebih berbeda daripada organisasi atau gerakan manapun dalam sejarah manusia. Amerika mungkin heran dan bingung dengan dunia keanekaragaman. Allah tidak. Mari kita merasa bangga bahwa Allah telah memungkinkan gaya hidup yang berbeda ada dalam bentuk-bentuk yang berbeda, dan fleksibilitas ini telah berlangsung sepanjang sejarah.

Mari kita tidak puas dengan keterpisahan saja, namun mari kita senantiasa menekankan bahwa kekayaan besar dari tradisi Kristen kita hanya dapat disadari ketika cara hidup yang berbeda mempertahankan hubungan yang kreatif. Namun mari kita berhati-hati terhadap mempercepat keseragaman. Jika gereja di seluruh dunia bisa dikumpulkan menjadi satu jemaat, Minggu demi Minggu, pada akhirnya dan dipastikan akan ada kehilangan yang besar terhadap kekayaan keanekaragaman dari tradisi Kristen saat ini. Apakah Allah menginginkan ini? Apakah kita menginginkan ini?

Yesus mati untuk orang-orang ini di seluruh dunia. Dia tidak mati untuk melestarikan gaya hidup Barat kita. Dia tidak mati untuk membuat M berhenti berdoa lima kali sehari. Dia tidak mati untuk membuat para Brahmana makan daging. Dapatkah Anda mendengar Paulus Si Penginjil berkata kita harus pergi kepada orang-orang ini di dalam sistemnya dimana sistem itu berlaku? Benar, inilah permohonan seorang penginjil lintas budaya, bukan pendeta.

Kita tidak bisa menjadikan semua gereja lokal cocok dengan pola semua gereja lokal lain. Namun kita harus memiliki upaya-upaya radikal baru untuk penginjilan lintas budaya untuk bersaksi dengan efektif kepada 2.387 juta orang, dan kita tidak bisa percaya bahwa kita bisa terus-menerus mengabaikan prioritas tertinggi ini.


Draf Buku "Perspektif: Tentang Gerakan Orang Kristen Dunia -- Manual Pembaca" Edisi Keempat, Disunting oleh Ralph D. Winter, Steven C. Hawthorne. Hak Cipta terbitan dalam bahasa Indonesia ©2010 pada Perspectives Indonesia

... kembali ke atas