PERSPEKTIF
.co
christian
online
Perspektif: Tentang Gerakan Orang Kristen Dunia

Injil Kerajaan (1)

Dari Perspektif: Tentang Gerakan Orang Kristen Dunia

Langsung ke: navigasi, cari

Draf Buku Perspektif


George Eldon Ladd

Ladd.jpg
George Eldon Ladd adalah Profesor Emeritus dalam bidang Eksegesis Perjanjian Baru dan Teologi di Fuller Theological Seminary. Beliau terlibat dalam Student Volunteer Movement.
Tulisan ini diambil dari The Gospel of the Kingdom, 1959. Digunakan dengan izin dari Wm. B. Eerdmans Publishing Company. Grand Rapids, MI.


Pada masa yang indah namun menakutkan ini, orang bertanya-tanya. Apa arti semua ini? Ke mana kita akan pergi? Apa arti dan tujuan dari sejarah manusia? Apakah kemanusiaan memiliki tujuan akhir? Atau apakah kita diatur melalui tahapan waktu seperti boneka kayu, hanya untuk membakar habis panggung, actor, dan teater itu sendiri – hanya meninggalkan setumpuk abu dan bau asap?

Para pujangga dan filsuf Yunani kuno merindukan suatu masyarakat ideal dan memimpikan suatu Zaman Keemasan yang hilang di masa lampau. Tetapi mereka tidak melihat kecemerlangan pada masa kini atau pengharapan bahwa masa depan seperti itu dapat terjadi.

Iman Ibrani-Kristen menyatakan pengharapannya dalam istilah Kerajaan Allah. Pengharapan alkitabiah ini tidak seperti mimpi para pujangga Yunani. Sebaliknya pengharapan ini dinyatakan oleh Allah dan berakhir dalam Dia. Ide alkitabiah tentang Kerajaan Allah berakar secara mendalam pada Perjanjian Lama. Ide tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa ada satu Allah yang kekal dan hidup yang telah menyatakan Diri-Nya kepada manusia. Allah tersebut juga telah menyatakan bahwa Dia memiliki tujuan bagi umat manusia yang telah dipilih-Nya untuk dicapai melalui Israel. Maka para nabi mengabarkan suatu hari ketika manusia akan hidup bersama dalam damai. Allah kemudian akan

menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang (Yes. 2:4).

Masalah yang ada dalam masyarakat tidak hanya akan diselesaikan, tetapi kejahatan dalam lingkungan fisik manusia juga tidak akan ada lagi.

Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya (Yes. 11:6).

Damai, keamanan, kenyamanan – semuanya dijanjikan di masa depan.

Kemudian datanglah Yesus dari Nazaret dengan pengumuman ini, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat. 4:17). Tema kedatangan Kerajaan Allah ini sentral dalam misi-Nya. Pengajaran-Nya dibuat untuk menunjukkan kepada manusia bagaimana mereka bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah (Mat. 5:20; 7:21). Pekerjaan Allah yang hebat dimaksudkan untuk membuktikan bahwa Kerajaan Allah telah datang ke atas mereka (Mat. 12:28). Berbagai perumpamaan Kristus mengilustrasikan kepada para murid-Nya kebenaran tentang Kerajaan Allah (Mat. 13:11). Ketika Dia mengajarkan para pengikut-Nya untuk berdoa, pada inti permohonan mereka ada kalimat, “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Mat. 6:10). Menjelang kematian-Nya, Dia meyakinkan para murid-Nya bahwa Dia akan memberikan kebahagiaan pada mereka dan persekutuan dari kerajaan Allah (Luk. 22:22-30). Dia berjanji bahwa Dia akan datang kembali ke bumi dalam kemuliaan untuk membawa berkat-berkat Kerajaan Allah bagi mereka yang sejak semula semua itu telah disediakan (Mat. 25:31, 34).

Daftar isi

Arti dari “Kerajaan”

Kita harus menanyakan pertanyaan yang paling mendasar: Apa arti dari “kerajaan”? Ketika kita menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan pemikiran modern, kita kehilangan arti kunci dari kebenaran Alkitab ini. Di dalam idiom barat, sebuah “kerajaan” utamanya merupakan suatu wilayah di mana seorang raja melaksanakan otoritasnya. Tidak banyak kerajaan yang masih ada dalam dunia modern sekarang ini, namun masih ada sedikit yang bertahan. Kamus mendefinisikan kata itu sebagai berikut, “Sebuah pemerintahan atau monarki, yang kepalanya adalah seorang raja; wilayah kekuasaan; wilayah.”

Arti kedua dari sebuah “kerajaan” adalah orang-orang yang berada dalam wilayah tersebut. Kerajaan Inggris Raya bisa diartikan sebagai orang-orang yang menjadi warga negara di dalamnya di mana Ratu menjalankan kekuasaannya. Mereka adalah bawahan dari kerajaannya.

Jika kita ingin mengerti apa yang Alkitab maksudkan dengan “kerajaan,” kita harus mengesampingkan pengertian modern kita. Pada titik ini kamus Webster memberi kita petunjuk ketika kamus ini memberikan definisi penggunaan kuno (archaic) dari kata ini: “kedudukan, kualitas, pemerintahan, atau atribut seorang raja; otoritas seorang raja; wilayah kekuasaan; monarki.” Menurut arti modern, definisi tersebut sudah tidak berlaku, tetapi arti kuno inilah yang kita butuhkan untuk mengerti pengajaran Alkitab dari masa yang lampau. Arti utama dari kata Ibrani malkuth dalam Perjanjian Lama dan kata Yunani basileia dalam Perjanjian Baru adalah kedudukan, otoritas dan kedaulatan yang dilaksanakan oleh seorang raja. Kata basileia bisa berarti suatu wilayah atau tanah di mana seorang penguasa melaksanakan otoritasnya. Kata kerajaan bisa juga merujuk pada orang-orang yang berada dalam wilayah tersebut?orang-orang yang diperintah oleh sang raja. Namun pengertian ini berasal dari arti sentral lainnya. Yang pertama, kerajaan adalah otoritas untuk memerintah, kedaulatan dari raja.

Kita melihat inilah arti utama dari kata “kerajaan” dalam Perjanjian Lama, di sana kata ini menggambarkan pemerintahan seorang raja. Ezra berbicara mengenai kembalinya bangsa Israel dari Babel “dalam kerajaan” Artahsasta, yang artinya kembalinya bangsa Israel terjadi selama pemerintahan Artahsasta (Ezr. 8:1). Berdirinya “kerajaan” Rehabeam berbicara mengenai pemerintahannya, bukan wilayah di mana dia memerintah (2 Taw. 12:1). Penggunaan kata “kerajaan” sebagai pemerintahan seorang manusia dapat juga ditemukan dalam perikop-perikop seperti Yeremia 49:34; 2 Tawarikh 11:17, 36:20; Daniel 8:23, Ezra 4:5; Nehemia 12:22, dan banyak lagi.

Arti dari “Kerajaan Allah”

Ketika kata “kerajaan” merujuk pada Kerajaan Allah, kata itu selalu merujuk pada pemerintahan Allah, pemerintahan dan kedaulatan Allah. Kata itu tidak merujuk pada wilayah atau geografi di mana Dia memerintah. “TUHAN sudah menegakkan takhta-Nya di sorga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu” (Mzm. 103:19). Kerajaan Allah adalah pemerintahan-Nya yang universal, kedaulatan-Nya atas seluruh bumi. “Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu” (Mzm. 145:11). Dalam paralelisme dari puisi Ibrani, kedua kalimat tersebut menyatakan kebenaran yang sama. Kerajaan Allah adalah kekuasaan-Nya. “Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan” (Mzm. 145:13). Wilayah pemerintahan Allah adalah sorga dan bumi, tetapi tidak dikatakan bahwa wilayah tersebut akan berlangsung selamanya. Pemerintahan Allahlah yang ada selamanya. “Ya tuanku raja, raja segala raja, yang kepadanya oleh Allah semesta langit telah diberikan kerajaan, kekuasaan, kekuatan dan kemuliaan” (Dan. 2:37). Perhatikan sinonim bagi Kerajaan Allah: kekuasaan, kekuatan, kemuliaan. Semuanya adalah ekspresi tentang otoritas, mengatakan kepada kita bahwa Kerajaan adalah otoritas yang Allah berikan kepada raja.

Satu referensi dalam Kitab Injil menjadikan arti kata ini menjadi jelas. Kita membaca dalam Lukas 19:11-12,

Untuk mereka yang mendengarkan Dia di situ, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka, bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Maka Ia berkata: “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja (basileia) di situ dan setelah itu baru kembali”

Bangsawan tersebut tidak pergi jauh untuk mendapatkan suatu wilayah, suatu tempat untuk memerintah. Teritori di mana dia harus memerintah adalah tempat ini yang ditinggalkannya. Masalahnya adalah dia bukan raja. Dia memerlukan otoritas, hak untuk memerintah. Dia pergi untuk mendapatkan suatu “kerajaan,” merujuk kepada otoritas untuk menjalankan kekuasaan sebagai raja. Alkitab bahasa Inggris Revised Standard Version menerjemahkan kata tersebut “kingly power.”

Kerajaan Allah adalah hak Allah sebagai raja, pemerintahan-Nya, otoritas-Nya. Ketika kita menyadari hal ini, kita dapat melihat arti kata ini dalam seluruh perikop Perjanjian Baru. Kita dapat melihat bahwa Kerajaan Allah bukan suatu wilayah atau orang-orang, tetapi pemerintahan Allah. Yesus berkata bahwa kita harus “menyambut Kerajaan Allah” seperti seorang anak kecil (Mrk. 10:15). Apa yang disambut? Gereja? Sorga? Apa yang disambut adalah pemerintahan Allah. Agar dapat masuk ke dalam wilayah Kerajaan pada masa yang akan datang, manusia harus menundukkan diri mereka kepada pemerintahan Allah di sini dan sekarang.

Ketika kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu” (Mat. 6:10), apakah kita mendoakan agar sorga datang ke bumi? Dalam sebuah pengertian kita memang berdoa untuk itu, tetapi alasan kita merindukan sorga adalah karena pemerintahan Allah lebih nyata dengan sempurna di sorga. Di luar pemerintahan Allah, sorga tidak memiliki arti. Karena itu kita berdoa, “Datanglah kerajaan-Mu; Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Di dalam doa ini kita memohon agar Allah memerintah. Kita memohon agar Dia menunjukkan diri-Nya memerintah dan berkuasa sebagai raja. Kita meminta Dia melawan setiap musuh kebenaran. Kita mencari pemerintahan ilahi-Nya – agar Allah saja menjadi Raja atas seluruh bumi.

Misteri Kerajaan

Pasal keempat dari Kitab Markus dan ketiga belas pasal dari Kitab Matius berisi sekelompok perumpamaan yang menggambarkan “rahasia Kerajaan Allah” (Mrk. 4:11). Sebuah perumpamaan adalah sebuah cerita yang ditarik dari pengalaman sehari-hari manusia yang dirancang untuk menggambarkan kebenaran utama dari pesan Tuhan kita. Kebenaran utama ini disebut “rahasia” Kerajaan Allah.

Pertama kita harus mengerti apa arti dari istilah “rahasia” (mystery). Sebuah rahasia dalam Alkitab bukan sesuatu yang misterius, jauh, gelap, mendalam ataupun sulit. Kita mungkin berpikir demikian ketika kita mendengar kata itu masa kini. Tetapi ketika kata tersebut digunakan, artinya berbeda. Di dalam Alkitab, kata “rahasia” (mystery) memiliki arti yang sama seperti yang Paulus jelaskan:

Bagi Dia, yang berkuasa menguatkan kamu, —menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan pernyataan rahasia (mystery), yang didiamkan berabad-abad lamanya, tetapi yang sekarang telah dinyatakan dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman (Roma 16:25-26).

Inilah ide alkitabiah tentang misteri: sesuatu yang telah didiamkan di masa yang lampau, namun sekarang disingkapkan. Rahasia adalah tujuan ilahi yang Allah rancang sejak kekekalan tetapi telah tersembunyi dari manusia. Namun, pada akhirnya, Allah menyatakan tujuan-Nya dan melalui kitab para nabi dinyatakan kepada setiap orang. Ringkasnya, sebuah rahasia adalah suatu tujuan ilahi, tersembunyi di dalam pikiran Allah selama berabad-abad, tetapi pada akhirnya dibukakan dalam penyataan baru dari pekerjaan penebusan Allah.

Perumpamaan-perumpamaan tersebut membuka rahasia Kerajaan – kebenaran baru mengenai Kerajaan Allah yang tidak disingkapkan di dalam Perjanjian Lama tetapi pada akhirnya dibukakan dalam pelayanan Tuhan kita di bumi. Apa isi rahasia itu?

Perspektif Perjanjian Lama mengenai Kerajaan Allah

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus kembali ke Perjanjian Lama untuk melihat sebuah tipikal nubuatan mengenai kedatangan Kerajaan Allah. Pada pasal kedua dari Kitab Daniel, Allah memberikan penglihatan kepada Raja Nebukadnezar tentang suatu patung besar yang memiliki kepala dari emas, dada dari perak, pinggang dari tembaga, pahanya dari tembaga dan tungkai kakinya sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat. Kemudian dia melihat sebuah batu tanpa perbuatan tangan manusia menimpa patung itu tepat pada kakinya sehingga remuk seperti sekam. Sekam tersebut dihembuskan angin “sehingga tidak ada bekas-bekasnya yang ditemukan.” Kemudian batu yang menghancurkan patung tersebut menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi (Dan. 2:31-35).

Penafsiran terhadap hal di atas ditemukan dalam ayat 44 dan 45. Patung tersebut mewakili serangkaian bangsa-bangsa yang akan mendominasi jalannya sejarah dunia. Arti dari batu diberikan dalam kalimat di bawah ini:

Tetapi pada zaman raja-raja, Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya, tepat seperti yang tuanku lihat, bahwa tanpa perbuatan tangan manusia sebuah batu terungkit lepas dari gunung dan meremukkan besi, tembaga, tanah liat, perak dan emas itu. Allah yang maha besar telah memberitahukan kepada tuanku raja apa yang akan terjadi di kemudian hari.

Grafik di bawah menunjukkan pandangan Perjanjian Lama mengenai nubuatan masa depan. Para nabi menantikan suatu hari kemuliaan ketika Kerajaan Allah akan datang, ketika Allah akan menegakkan pemerintahan-Nya di atas bumi.

Di masa tersebut, seperti para nabi menggambarkannya, pemerintahan Allah akan menggantikan semua pemerintahan, segala kerajaan dan penguasa yang lain. Dia akan mematahkan kedaulatan angkuh dari orang jahat yang telah berkuasa di sepanjang sejarah. Pemerintahan Allah, Kerajaan-Nya, akan menghapus setiap kekuasaan yang melawan. Allah sendiri yang akan menjadi Raja pada masa itu.

Di dalam pandangan Perjanjian Lama, kedatangan Kerajaan Allah biasanya dilihat sebagai satu peristiwa besar. Kerajaan Allah dinantikan sebagai suatu peristiwa penyataan kuasa Allah yang besar dan tiba-tiba, mengatasi rezim yang jahat dari kuasa manusia dan memenuhi seluruh bumi dengan kebenaran.

Penyataan Baru Mengenai Kerajaan Allah

Sekarang kita harus kembali ke Injil Matius dan menyatukan kedua ide ini. Yohanes Pembaptis telah mengumumkan bahwa Kerajaan Allah sudah tiba (Mat. 3:2), dan dia mengerti peristiwa ini sebagai peristiwa yang tiba-tiba sama seperti kedatangan Kerajaan Allah yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Kedatangan Dia yang dinantikan akan membawa dua baptisan: sebagian akan dibaptis dengan Roh Kudus. Mereka akan mengalami keselamatan Mesianis dari Kerajaan Allah. Sebagian yang lain akan dibaptis dengan api dari penghakiman terakhir (Mat. 3:11). Yohanes menjelaskan maksudnya pada ayat berikutnya. Yohanes berkata bahwa Mesias akan membagi dan memisahkan manusia sama seperti petani memisahkan gandum dan ilalang pada saat panen. Mesias akan membersihkan tempat pengirikan-Nya, mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung (keselamatan bagi orang yang dibenarkan) tetapi debu jerami akan dibakar dalam api yang tidak terpadamkan (ay. 12).

Dari penjara, Yohanes mengutus murid-muridnya untuk bertanya kepada Yesus apakah Dia benar-benar Mesias, atau mereka harus menantikan orang yang lain. Keraguan Yohanes sering ditafsirkan sebagai kehilangan keyakinan akan misinya dan panggilan Allah kepadanya akibat pemenjaraan. Tetapi pujian Yesus kepada Yohanes menjadikan penafsiran semacam itu tidak meyakinkan. Yohanes bukanlah buluh yang digoyangkan oleh angin (Mat. 11:7). Masalah Yohanes dihasilkan oleh fakta bahwa Yesus tidak bertindak seperti Mesias yang Yohanes telah beritakan. Di mana baptisan Roh? Di mana penghakiman terhadap orang jahat?

“Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (ay. 3). Mengapa Yohanes menanyakan pertanyaan seperti itu? Karena nubuat Daniel tidak terlihat sedang dipenuhi. Herodes Antipas memerintah Galilea. Pasukan Romawi berbaris memasuki Yerusalem. Otoritas ada di tangan Pilatus, seorang Romawi kafir. Pemerintahan Romawi yang menyembah berhala, memiliki banyak dewa dan tidak bermoral memerintah dunia dengan keras. Di sinilah masalah Yohanes, dan ini juga merupakan masalah bagi setiap orang Yahudi yang saleh, termasuk para murid terdekat Yesus, dalam usaha mereka untuk mengerti dan menafsirkan pribadi Yesus dan pelayanan-Nya. Bagaimana Yesus bisa menjadi Mesias, yang mendatangkan Kerajaan Allah, sementara dosa dan pemerintahan yang berdosa masih tinggal tetap tidak dihukum?

Yesus menjawab bahwa Dia memang adalah Pembawa Kerajaan Allah dan tanda-tanda Zaman Mesianis yang dinubuatkan sedang dimanifestasikan. Dan Yesus berkata, “berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku” (Mat. 11:6).

Maksud Yesus adalah: “Ya, Kerajaan Allah sudah datang. Tetapi masih ada rahasia – penyataan baru mengenai Kerajaan Allah. Kerajaan Allah sudah ada di sini, akan tetapi alih-alih menghancurkan kedaulatan manusia, Kerajaan Allah telah menyerang kuasa setan yang sedang memerintah. Kerajaan Allah sudah ada di sini; tetapi bukannya mengubah secara eksternal tatanan politik segala hal, Kerajaan Allah mengubah tatanan rohani dan dalam kehidupan manusia.”

Inilah rahasia Kerajaan Allah, kebenaran yang sekarang Allah bukakan untuk pertama kali dalam sejarah penebusan. Kerajaan Allah akan bekerja di antara manusia dalam dua tahap yang berbeda. Kerajaan Allah belum tiba dalam bentuk yang dinubuatkan Daniel di mana setiap pemerintahan manusia akan digantikan oleh pemerintahan Allah. Dunia masih menantikan kedatangan Kerajaan Allah dalam kuasa. Tetapi rahasianya, penyataan baru, adalah kerajaan Allah ini telah datang di antara manusia namun dalam cara yang sama sekali tidak diharapkan. Kerajaan Allah sekarang ini tidak sedang menghancurkan pemerintahan manusia; Kerajaan Allah sekarang ini tidak sedang menghapuskan setiap dosa dari muka bumi; Kerajaan Allah sekarang ini tidak sedang mendatangkan baptisan api seperti yang Yohanes beritakan. Kerajaan Allah telah datang secara diam-diam, rahasia, tanpa menarik perhatian. Kerajaan Allah dapat bekerja di antara manusia dan tidak pernah diketahui oleh orang banyak. Kerajaan Allah sekarang menawarkan berkat dari pemerintahan Allah, melepaskan manusia dari kuasa Setan dan dosa. Kerajaan Allah adalah sebuah penawaran, suatu pemberian yang dapat diterima atau ditolak. Kerajaan Allah telah datang dengan bujukan bukan kuasa.

Setiap perumpamaan dalam Matius 13 menggambarkan rahasia Kerajaan ini. Kerajaan Allah belum datang dalam kuasa dan kemuliaan besar. Tetapi Kerajaan Allah sekarang sudah datang dalam bentuk yang tidak diharapkan. Kerajaan Allah sekarang ini hadir di antara manusia di zaman yang jahat sekarang Ini, membawa berkat-berkat dari Zaman yang Akan Datang. Ini digambarkan dalam diagram di bawah ini.

Inilah rahasia dari Kerajaan Allah: sebelum hari panen, sebelum akhir zaman, Allah telah masuk ke dalam sejarah di dalam pribadi Kristus. Dia melakukan ini untuk membawa manusia kepada kehidupan dan berkat-berkat dari Kerajaan Allah. Kerajaan Allah datang dengan kerendahan tanpa kemewahan atau menarik perhatian. Kerajaan Allah datang kepada manusia sebagai seorang tukang kayu dari Galilea yang melewati kota-kota di Palestina. Ia memberitakan Injil Kerajaan, melepaskan manusia dari perbudakan setan. Kerajaan Allah datang ketika murid-murid Yesus pergi melintasi desa-desa di Galilea dengan berita yang sama. Kerajaan Allah datang kepada manusia hari ini ketika murid-murid Yesus masih terus membawa Injil Kerajaan ke seluruh dunia. Kerajaan Allah datang secara diam-diam, dalam kerendahan, tanpa api dari sorga, tanpa pancaran kemuliaan, tanpa memindahkan gunung atau membelah langit. Kerajaan Allah datang seperti benih yang ditaburkan di bumi. Kerajaan Allah dapat ditolak oleh hati yang keras; Kerajaan Allah dapat dibuang; keberlangsungannya terkadang terlihat seperti layu dan mati, tetapi itulah Kerajaan Allah. Kerajaan Allah membawa mujizat kehidupan ilahi ke antara manusia. Kerajaan Allah memperkenalkan manusia kepada berkat-berkat dari pemerintahan Allah. Bagi manusialah pekerjaan supernatural dari anugerah Allah. Dan Kerajaan yang sama ini, kuasa supernatural Allah yang sama, akan menyatakan dirinya di akhir zaman. Pada saat itu, Kerajaan Allah tidak akan muncul secara diam-diam dalam kehidupan orang-orang yang telah menerimanya. Kerajaan Allah akan menyatakan dirinya dalam kuasa dan kemuliaan yang besar, menghancurkan segala dosa dan kejahatan dari bumi. Itulah Injil Kerajaan Allah.

Kapan Kerajaan Allah Datang?

Jika kita pada hari ini sudah masuk ke dalam kenikmatan berkat-berkat Kerajaan Allah, pertanyaan terakhir kita adalah, apa yang akan kita lakukan sebagai hasil dari berkat-berkat ini? Apakah kita secara pasif menikmati kehidupan Kerajaan Allah sementara kita menantikan Tuhan datang kembali dan menyelesaikan segala sesuatu? Ya, kita harus menanti, tetapi tidak secara pasif. Mungkin satu ayat yang paling penting bagi umat Allah pada hari ini adalah teks untuk studi ini: Matius 24:14.

Ayat ini merujuk kepada manifestasi Kerajaan Allah dalam kuasa dan kemuliaan ketika Yesus kembali. Ada minat yang luas di antara umat Allah mengenai waktu kedatangan Kristus. Apakah segera, atau masih lama? Banyak penulis telah mengadakan konferensi dan menawarkan pesan-pesan yang mencari nubuat Alkitab dan meneliti berita-berita untuk mengerti tanda-tanda zaman. Pencarian seperti itu dilakukan untuk menentukan berapa dekat akhir zaman ini. Matius 24:14 memberikan pernyataan paling jelas dalam Firman Tuhan mengenai waktu kedatangan Tuhan. Tidak ada ayat yang berbicara sesingkat dan sejelas ayat ini mengenai waktu Kerajaan Allah akan tiba.

Pada permulaan pasal 24, kita menemukan para murid mengagumi bait Allah. Yesus memberitakan bahwa bait Allah tersebut akan dihancurkan, yang memicu pertanyaan, “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” (Mat. 24:3). Para murid mengharapkan Zaman Ini berakhir dengan kembalinya Kristus dalam kemuliaan. Kerajaan Allah akan datang pada saat yang sama dimulainya Zaman yang Akan Datang. Inilah pertanyaan mereka: “Bilamanakah Zaman Ini akan berakhir? Bilamanakah Engkau akan datang kembali dan membawa Kerajaan Allah?”

Yesus menjawab pertanyaan mereka dalam beberapa detail. Pertama-tama Yesus menggambarkan jalan sejarah Zaman Ini sampai pada akhirnya. Zaman yang Jahat ini akan berakhir ketika Dia kembali. Zaman ini akan terus memusuhi Injil dan umat Allah. Kejahatan akan berkuasa. Pengaruh-pengaruh yang tidak kentara dan menipu akan menjauhkan manusia dari Kristus. Agama dan mesias palsu akan membawa banyak orang tersesat. Perang akan berlanjut; akan terjadi bencana kelaparan dan gempa bumi. Penganiayaan dan martir akan mewabahi gereja. Orang-orang percaya akan menderita kebencian selama Zaman Ini berlangsung. Orang-orang akan tersandung dan saling menyerahkan. Nabi-nabi palsu akan muncul, pelanggaran akan melimpah dan kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin (ay. 4-12).

Ini gambaran yang suram, tetapi inilah yang harus diharapkan dari suatu zaman yang berada di bawah penguasa kegelapan (Ef. 6:12). Namun, gambaran tersebut bukan suatu gambaran kejahatan dan kegelapan yang tidak dapat dikalahkan. Allah tidak meninggalkan Zaman Ini dalam kegelapan. Tulisan-tulisan apokaliptis Yahudi di masa Perjanjian Baru memahami suatu zaman yang sepenuhnya dikuasai oleh kegelapan. Allah telah menarik diri dan tidak lagi aktif dalam urusan manusia. Keselamatan hanya di masa depan, ketika Kerajaan Allah akan datang dalam kemuliaan. Masa sekarang hanya menyaksikan kesedihan dan penderitaan.

Sebagian orang Kristen telah merenungkan sikap muram yang sama: Setan adalah “ilah Zaman Ini”; maka, umat Allah hanya dapat mengharapkan kejahatan dan kekalahan semata di Zaman Ini. Gereja akan sepenuhnya hancur; peradaban akan menjadi sepenuhnya rusak. Orang-orang Kristen harus berjuang dalam pertempuran yang kalah sampai Kristus datang.

Firman Tuhan memang mengajarkan bahwa kejahatan akan menjadi semakin intens pada akhir zaman – karena setan tetap menjadi ilah Zaman Ini. Akan tetapi, kita menekankan bahwa Allah tidak meninggalkan Zaman Ini kepada Si Jahat. Faktanya, Kerajaan Allah telah masuk ke dalam Zaman yang Jahat ini; Setan telah dikalahkan. Kerajaan Allah, di dalam Kristus, telah menciptakan Gereja, dan Kerajaan Allah bekerja dalam dunia melalui Gereja untuk menyelesaikan tujuan Allah memperluas Kerajaan-Nya di dunia. Kita berada dalam pertempuran besar – konflik dari segala zaman. Kerajaan Allah bekerja dalam dunia ini melalui kuasa Injil.


Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya (Mat. 24:14).


Di dalam nas ini saya menemukan tiga hal. Ada sebuah pesan, ada sebuah misi dan ada sebuah motif.

... Bersambung ke bagian 2

Draf Buku "Perspektif: Tentang Gerakan Orang Kristen Dunia -- Manual Pembaca" Edisi Keempat, Disunting oleh Ralph D. Winter, Steven C. Hawthorne. Hak Cipta terbitan dalam bahasa Indonesia ©2010 pada Perspectives Indonesia

... kembali ke atas