PERSPEKTIF
.co
christian
online
Perspektif: Tentang Gerakan Orang Kristen Dunia

Dua Struktur Misi Penebusan Allah (2)

Dari Perspektif: Tentang Gerakan Orang Kristen Dunia

Langsung ke: navigasi, cari

Draf Buku Perspektif


... Sambungan dari Bagian 1


Ralph D. Winter


Kita telah melihat bagaimana gerakan Kristen membangun dirinya sendiri di atas dua jenis struktur yang berbeda yang sudah ada sebelumnya dalam tradisi budaya Yahudi. Kini tugas kita adalah melihat apakah kesamaan fungsional dari kedua struktur yang sama ini muncul dalam berbagai tradisi budaya Kristen sesudahnya seraya Injil memasuki dunia yang lebih luas.

Tentu saja, pola sinagoge yang asli tetap bertahan sebagai struktur yang digunakan orang Kristen selama beberapa waktu. Akan tetapi, persaingan antara orang Kristen dan orang Yahudi cenderung membuat pola ini tidak menjadi pola Kristen, dan dalam beberapa kasus menghilangkannya sama sekali, khususnya jika itu mungkin bagi jemaat orang Yahudi yang tersebar untuk menggerakan penganiayaan di muka umum terhadap sinagoge Kristen yang tampaknya menyimpang. Tidak seperti orang Yahudi, orang Kristen tidak memiliki lisensi resmi sebagai kepercayaan alternatif sebagai ganti pemujaan terhadap Kekaisaran Romawi.5 Jadi, sementara masing-masing sinagoge sangat independen satu kepada yang lain, pola Kristen segera terasimilasi ke dalam konteks Romawi, dan para uskup dilimpahkan otoritas atas lebih dari satu jemaat lokal dengan suatu kekuasaan (jurisdiksi) teritorial yang sering identik dengan pola pemerintahan sipil Romawi. Kecenderungan ini dikonfirmasi dengan baik ketika pengakuan resmi terhadap Kekristenan memiliki dampak penuh: kata Latin untuk wilayah kekuasaan Romawi dipakai— diose (wilayah keuskupan)—yang di dalamnya ada beberapa jemaat pada tingkatan lokal.

Bagaimana pun juga, sementara pola yang lebih “kongregasional (jemaat lokal)” dari sinagoge yang independen digantikan secara lebih mudah menyebar oleh sebuah pola Romawi yang “koneksional,” gereja lokal Kristen yang baru tetap mempertahankan konstituen dasar dari sinagoge, yaitu, kombinasi dari orang tua dan orang muda, pria dan wanita?yaitu, organisme yang secara biologis menjaga kelangsungan hidup.

Sementara itu, tradisi monastik dalam bentuk awalnya yang beragam berkembang sebagai sebuah struktur kedua. Struktur baru yang berkembang secara luas ini pasti tidak memiliki hubungan sama sekali dengan kelompok misionarisonaris di mana Paulus terlibat. Sebenarnya, bentuk ini lebih secara substansial ditarik dari struktur militer Romawi ketimbang sumber mana pun lainnya. Pachomius, seorang mantan militer, memperoleh 3.000 pengikut dan menarik perhatian dari orang seperti Basil of Caesarea, dan kemudian melalui Basil, John Cassian yang bekerja keras di Galia bagian selatan di kemudian hari.6 Orang-orang ini menjalankan suatu struktur disiplin yang terutama dipinjam dari militer, yang mengizinkan orang Kristen nominal untuk membuat sebuah pilihan tingkat kedua?suatu komitmen spesifik tambahan.

Mungkin ada baiknya berhenti sejenak di sini untuk sementara. Rujukan apa pun mengenai biara memberikan kejuta budaya kepada orang Protestan. Reformasi Protestan berjuang melawan kondisi yang membusuk di akhir 1.000 tahun periode Abad Pertengahan. Kita tidak berkeinginan untuk menyangkal fakta bahwa kondisi di biara tidak selalu ideal; apa yang rata-rata orang Protestan ketahui tentang biara mungkin benar untuk situasi tertentu; tetapi stereotip yang dimiliki orang Protestan jelas tidak bisa menggambarkan secara tepat semua yang terjadi selama 1.000 tahun! Selama abad-abad tersebut ada banyak era dan masa yang berbeda dan keberagaman yang luas dari gerakan monastik, yang secara radikal berbeda satu sama lain, yang sebentar lagi akan kita lihat; dan generalisasi apa pun tentang fenomena yang begitu luas ini pasti menjadi penyederhanaan yang tidak dapat diandalkan dan merugikan karena penilaian yang kurang beralasan.

Izinkan saya memberi satu contoh saja tentang betapa jauh kekeliruan stereotip kita sebagai orang Protestan mengenai hal ini. Kita sering mendengar bahwa para biarawan “melarikan diri dari dunia.” Bandingkan gagasan tersebut dengan gambaran yang diberikan oleh seorang sarjana misi Baptis:

Aturan Benediktin dan banyak aturan lainnya yang muncul dari aturan tersebut mungkin menolong memberikan martabat dalam kerja, termasuk pekerjaan kasar di ladang. Ini merupakan hal yang sangat berbeda dengan keyakinan kaum bangsawan tentang status hina dari pekerjaan kasar yang tersebar luas di banyak masyarakat kuno dan juga merupakan sikap dari para prajurit dan para pendeta non-biara yang membentuk kelas menengah ke atas pada Abad Pertengahan…. Terhadap biara-biara ini …. jelasnya kita berutang banyak pembukaan lahan untuk bercocok tanam dan peningkatan metode agrikultur. Di tengah barbarianisme, biara-biara menjadi pusat dari kehidupan yang menetap dan teratur dan para biarawan ditugaskan dengan kewajiban membangun dan memperbaiki jalan. Sampai pada masa munculnya kota-kota di abad 11, merekalah para perintis dalam industri dan perdagangan. Toko-toko dari berbagai biara memelihara berbagai industri dari zaman Romawi…. penggunaan awal dari tanah yang digunakan untuk pupuk demi meningkatkan kesuburan tanah merupakan kontribusi mereka. Ordo biara Prancis yang luar biasa menghasilkan kolonisasi agrikultur di Eropa Barat. Khususnya biara Cistercian membuat rumah-rumah mereka sebagai pusat agrikultur dan berkontribusi dalam pengembangan dalam pekerjaan tersebut. Bersama dengan rekan-rekan awam dan para pekerja sewaan, mereka menjadi para pemilik pengelola lahan yang hebat. Di Hungaria dan perbatasan Jerman kaum Cistercian khususnya penting dalam mengurangi penggunaan tanah dan memperluas kolonisasi. Di Polandia, biara-biara orang Jerman menetapkan standar yang maju dalam agrikultur dan memperkenalkan bidang keahlian pertukangan dan penciptaan barang seni.7

Bagi semua kita yang tertarik dengan misi, stereotip “biarawan yang melarikan diri dari dunia” bahkan secara lebih dramatis dan dengan tegas diperkuat oleh catatan yang luar biasa mengenai pengelana Irlandia, yang adalah para biarawan Celtic yang melakukan lebih banyak demi menjangkau dan mempertobatkan orang Anglo-Saxon ketimbang misi Augustinus di kemudian hari dari Selatan. Para biarawan Celtic juga lebih banyak berkontribusi bagi penginjilan Eropa Barat, bahkan Eropa Tengah, daripada yang lain.

Sejak dari awal kemunculannya, struktur jenis kedua ini sangat penting bagi perkembangan dan pertumbuhan gerakan Kristen. Bahkan meski orang Protestan memiliki prasangka yang sudah mendarah daging terhadap gerakan biarawan dengan alasan yang beragam, seperti telah kita lihat, tidak ada seorang pun menyangkal fakta bahwa tanpa struktur Monastik ini akan sulit membayangkan keberlanjutan vital dari tradisi Kristen di sepanjang abad. Orang Protestan sama dicemaskannya dengan struktur lainnya?struktur jemaat lokal dan diose. Faktanya, adalah karena kelemahan dan nominalitas dari struktur diose yang membuat struktur monastik begitu signifikan. Orang-orang seperti Jerome dan Augustinus, sebagai contoh, dianggap oleh orang Protestan bukan sebagai biarawan melainkan sebagai sarjana besar, dan orang seperti John Calvin sangat bergantung pada tulisan-tulisan yang dihasilkan para biarawan seperti itu. Tetapi orang Protestan biasanya tidak mengakui struktur khusus tempat Jerome dan Augustinus dan banyak sarjana monastik lainnya berkarya di dalamnya, sebuah struktur yang tanpanya jerih payah Protestan akan memiliki sangat sedikit untuk membangun di atasnya, bahkan tidak pula Alkitab.

Kini kita harus mengikuti berbagai alur ini ke dalam periode selanjutnya, di mana kita akan melihat kemunculan formal dari berbagai struktur monastik utama. Cukuplah pada titik ini untuk hanya memperhatikan bahwa pada abad keempat sudah ada dua jenis struktur yang berbeda?diose dan biara?keduanya signifikan dalam penyampaian dan penyebaran Kekristenan. Masing-masing pola dari kedua struktur ini dipinjam dari konteks budaya di zaman mereka, sama seperti sinagoge Kristen dan kelompok misionarisonaris di masa yang lebih awal.

Bahkan yang lebih penting untuk dicatat bagi tujuan kita di sini adalah sementara kedua struktur ini secara formal berbeda dari?dan secara historis tidak berhubungan dengan?dua struktur dalam masa Perjanjian Baru, akan tetapi keduanya secara fungsi sama. Untuk bisa berbicara secara nyaman tentang kesamaan-kesamaan yang sinambung dalam fungsi, marilah sekarang kita sebut sinagoge dan diose sebagai modalitas, dan kelompok misionaris dan biara sebagai sodalitas. Di tempat lain saya telah mengembangkan istilah ini secara detail, namun singkatnya, sebuah modalitas adalah suatu persekutuan yang terstruktur di mana tidak ada pembedaan jenis kelamin atau usia, sedangkan sebuah sodalitas adalah suatu persekutuan yang terstruktur di mana keanggotaannya melibatkan keputusan kedua seorang dewasa yang melampaui keanggotaan modalitas, dan dibatasi baik oleh usia atau jenis kelamin atau status pernikahan. Di dalam penggunaan istilah ini, baik denominasi dan jemaat lokal adalah modalitas, sedangkan sebuah badan misi atau klub lokal pria adalah sodalitas.8 Sebuah paralel sekuler adalah seperti sebuah kota (modalitas) dibandingkan dengan sebuah bisnis swasta (sodalitas)?mungkin suatu jaringan took-toko yang ditemukan di banyak kota. Biasanya, sodalitas-sodalitas tunduk kepada otoritas dari struktur-struktur yang lebih umum. Mereka “diatur” tetapi tidak “dijalankan” oleh modalitas. Suatu bentuk sosialisme yang melibatkan kontrol pemerintah terjadi ketika tidak adanya inisiatif sektor swasta yang diatur dan didesentralisasikan. Beberapa tradisi denominasional, seperti Katolik Roma dan Anglikan, mengizinkan inisiatif semacam itu. Banyak denominasi Protestan, dengan mencontoh penolakan Luther terhadap sodalitas-sodalitas pada zamannya, berusaha mengatur segala sesuatu dari suatu jabatan denominasional. Beberapa jemaat lokal tidak dapat memahami nilai atau kebutuhan untuk struktur-struktur misi. Paulus “dibiarkan pergi” (sent off) bukan “disuruh” (sent out) oleh jemaat Antiokhia. Dia mungkin telah mengirim laporan kembali kepada jemaat Antiokhia tetapi tidak menerima perintah dari mereka. Kelompok misi Paulus (sodalitas) memiliki segala otonomi dan otoritas sebagai sebuah “jemaat yang bepergian.”

Akan tetapi, dalam periode awal yang melampaui halaman-halaman Alkitab, sedikit sekali hubungan antara modalitas dan sodalitas, sementara di masa Paulus kelompok misinya secara spesifik memupuk jemaat-jemaat?suatu simbiosis yang paling penting. Kita sekarang akan melihat bagaimana periode abad pertengahan secara esensial memulihkan kembali relasi Perjanjian Baru yang sehat antara modalitas dan sodalitas.


Daftar isi

Sintesis Abad Pertengahan dari Modalitas dan Sodalitas

Kita dapat mengatakan bahwa periode Abad Pertengahan dimulai ketika pemerintahan diose Kerajaan Romawi di Barat mulai runtuh. Sampai bagian tertentu pola wilayah keuskupan Kristen, yang mengikuti pola pemerintahan sipil Romawi, cenderung runtuh pada saat yang sama. Pola monastik (atau sodalitas) akhirnya menjadi jauh lebih bertahan, dan akibatnya mendapat tempat yang lebih penting di awal periode Abad Pertengahan daripada yang mungkin dimilikinya dengan cara lain. Bertahannya modalitas (Kekristenan dengan struktur wilayah keuskupan) selanjutnya dikompromikan dengan fakta bahwa para penyerang di awal periode Abad Pertengahan umumnya berasal dari aliran kepercayaan Kristen yang berbeda?mereka adalah orang-orang dari aliran Arian. Akibatnya, di banyak tempat terdapat banyak gereja Kristen “Arian” dan “Katolik” yang sudut-sudut yang berseberangan dari sebuah jalan utama?seperti hari ini, di mana kita memiliki gereja Methodis dan Presbiterian saling berhadapan di muka jalan.

Namun, sekali lagi, bukanlah maksud kita untuk meremehkan pentingnya bentuk diose atau bentuk jemaat lokal dari Kekristenan, tetapi hanya ingin menunjukkan bahwa selama periode awal dari Abad Pertengahan ini rumah yang dikhususkan yang disebut biara, atau yang mirip dengan itu, telah menjadi sangat amat penting dalam pemeliharaan gerakan Kristen ketimbang sistem jemaat lokal yang terorganisasi, yang sering kita sebut gereja seakan-akan tidak ada struktur lain yang membentuk gereja.

Mungkin gambaran paling istimewa di masa awal periode Abad Pertengahan mengenai pentingnya hubungan antara modalitas dan sodalitas adalah kolaborasi antara Gregory Agung dan seorang pria yang kemudian disebut Augustine of Canterbury. Meskipun Gregory, sebagai uskup diose di Roma, merupakan kepala dari sebuah modalitas, dia dan Augustine adalah produk dari rumah biara (seperti banyak pendeta pada hari ini berasal dari Campus Crusade atau InterVarsity)?sebuah fakta yang mencerminkan menonjolnya pola sodalitas dalam struktur Kristen. Bagaimanapun juga, Gregory memanggil temannya Augustine untuk mengerjakan misi besar ke Inggris untuk mencoba menanam struktur diose (keuskupan) di sana, tempat di mana Kekristenan Celtic telah sangat dilukai oleh penyerangan prajurit Saxon dari Eropa.

Sekuat apa pun Gregory, dia hanyalah kepala diose-nya sendiri. Dia tidak memiliki struktur untuk penjangkauan dalam upaya misinya selain sodalitas, yang pada masa itu dalam sejarah mengambil bentuk sebuah biara Benediktin. Inilah mengapa dia akhirnya meminta Augustine dan sekelompok anggota lain dari biara yang sama untuk menunaikan perjalanan misi yang agak berbahaya dan penting bagi dirinya, seperti walikota mengontrak sebuah perusahaan swasta untuk melakukan pekerjaan bagi kota. Tujuan dari misi, menariknya, bukan untuk memperluas bentuk monastisisime Benediktin. Sisa dari “gereja” Celtic di Inggris sendirinya adalah sebuah jaringan dari berbagai sodalitas karena di wilayah Celtic tidak memiliki sistem jemaat lokal. Jadi, Augustine pergi ke Inggris untuk mendirikan diose, meskipun dia sendiri bukan seorang pendeta diose. Yang cukup menarik, “Aturan” kaum Benediktin (cara hidup) begitu menarik sehingga perlahan-lahan hampir semua rumah Celtic mengadopsi Aturan Benediktin, atau Regula (dalam bahasa Latin).

Ini cukup unik. Selama periode waktu yang panjang, mungkin seribu tahun, pembangunan dan pembangunan kembali modalitas-modalitas sebagian besarnya merupakan pekerjaan sodalitas-sodalitas. Dengan kata lain bahwa biara-biara secara seragam adalah sumber dan titik inti yang sebenarnya dari energi baru serta vitalitas yang mengalir ke dalam sisi struktur diose dari gerakan Kristen. Kita memikirkan tentang reformasi di Cluny yang sangat menentukan, kemudian kaum Cistercian, kemudian para Friar, dan terakhir kaum Jesuit?semua mereka tegasnya adalah sodalitas-sodalitas, tetapi sodalitas yang berkontribusi sangat besar terhadap pembangunan dan pembangunan kembali Corpus Cristianum (keseluruhan tubuh Kekristenan), jejaring diose, yang sering diidentifikasi oleh orang Protestan sebagai gerakan Kristen itu sendiri.

Pada banyak titik ada perselisihan antara kedua struktur ini, antara uskup dan kepala biarawan, diose dan biara, modalitas dan sodalitas, tetapi pencapaian besar dari periode Abad Pertengahan adalah sintesis tertinggi, yang dicapai secara cermat, di mana ordo-ordo Katolik mampu berfungsi bersama dengan diose dan jemaat lokal Katolik tanpa saling berkonflik kepada titik kemunduran bagi gerakan tersebut. Harmoni antara modalitas dan sodalitas yang dicapai oleh gereja Romawi mungkin merupakan karakteristik yang paling signifikan dari tahapan gerakan Kristen dunia saat itu dan terus berlanjut menjadi keuntungan organisasional terbesar dari Roma sampai hari ini.

Namun perlu diperhatikan, bukanlah maksud kita untuk mengklaim bahwa setiap organisasi, apakah itu modalitas atau sodalitas, secara terus menjadi pendukung vitalitas dan kekuatan di sepanjang seribu tahun periode Abad Pertengahan. Faktanya, tidak ada kontinuitas organisasional yang sangat mengesankan dalam gerakan Kristen, apakah itu dalam bentuk modalitas atau sodalitas. (Daftar uskup-uskup di Roma pada banyak titik tertentu merupakan gagasan yang paling rapuh dan sayangnya bahkan tidak memberikan sebuah fokus bagi seluruh gerakan Kristen.) Di sisi lain, jelas bahwa sodalitas, ketika diciptakan kembali berkali-kali oleh pemimpin yang berbeda-beda, hampir selalu menjadi penggerak utama secara struktural, sumber inspirasi dan pembaharuan yang mengalir ke ke dalam Kepausan dan menciptakan gerakan-gerakan pembaharuan yang memberkati bentuk Kekristenan diose dari waktu ke waktu. Contoh paling signifikan untuk hal ini adalah naiknya Hildebrand (Gregory VII) ke takhta Kepausan. Dialah yang membawa cita-cita, komitmen dan disiplin dari gerakan monastik sampai ke dalam Vatikan sendiri. Dalam artian ini bukankah kepausan, perguruan kardinal, diose, dan struktur jemaat lokal gereja Roma itu sendiri dalam beberapa aspek menjadi elemen sekunder, sesuatu yang berasal dari tradisi monastik ketimbang sebaliknya? Bagaimanapun, tampaknya tepat bahwa para pendeta dari tradisi monastik disebut pendeta regular, sedangkan pendeta dari diose dan jemaat lokal disebut pendeta sekular. Sebutan pertama secara sukarela diikat oleh suatu regula, sedangkan yang kedua berbeda, berada diluar (“terputus”), atau agak kurang dari, komunitas keputusan kedua yang diikat oleh cara hidup yang menuntut, suatu regula. Kapan pun sebuah rumah atau proyek atau jemaat lokal yang dijalankan oleh kependetaan regular dibawa ke bawah dominasi kependetaan sekuler, ini merupakan sebuah bentuk “sekularisasi” dari entitas tersebut. Di dalam “Kontroversi Pemberian Wewenang,” kependetaan regular akhirnya mendapat otoritas yang jelas untuk setidaknya kegiatan semi otonom, dan sekularisasi dari ordo-ordo dihindari.

Bahaya struktural yang sama dari sekularisasi muncul pada hari ini kapan pun perhatian khusus dari sebuah elit misi sodalitas jatuh di bawah dominasi penuh (misalnya, administrasi bukan hanya regulasi) dari pemerintahan gereja, karena modalitas-modalitas Kristen (jemaat-jemaat) secara tak terelakkan mewakili jauh lebih luas dan sebagian besarnya perhatian ke dalam dari sebuah tubuh yang besar yang terdiri dari segala macam orang Kristen, yang merupakan anggota-anggota “keputusan pertama,” yang umumnya kurang dipilih. Mayoritas demokratis jemaat tersebut cenderung menjauh dari disiplin tinggi struktur-struktur misi, dan anggaran misi denominasional cenderung semakin kecil di sepanjang dekade manakala keanggotaan gereja “meluas.”

Kita tidak dapat meninggalkan periode Abad Pertengahan tanpa merujuk pada banyaknya gerakan yang tidak resmi dan sering dianiaya yang juga menandai era ini. Di dalam semua ini, Alkitab sendiri kelihatannya selalu menjadi penggerak utama tertinggi, seperti yang kita lihat dalam kasus Peter Waldo. Pekerjaannya merupakan demonstrasi yang sangat kuat tentang kekuatan bersahaja dari penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa lokal di mana orang tidak mampu mengapresiasi entah terjemahan klasik Latin dari Jerome atau perayaan Misa dalam bahasa Latin. Sejumlah besar kelompok yang disebut sebagai “kaum Anabaptis” bisa ditemukan di berbagai wilayah Eropa. Salah satu karakteristik utama dari gerakan pembaharuan ini adalah mereka tidak berusaha untuk menimbulkan hanya partisipasi orang yang tidak menikah, meskipun ini adalah salah satu dari sikap mereka dalam beberapa hal, tetapi sering kali mengembangkan “komunitas baru” orang-orang percaya yang seutuhnya dan keluarga-keluarga mereka, melalui penyebaran budaya dan biologis berusaha untuk mempertahankan suatu bentuk Kekristenan yang tinggi dan dicerahkan. Kelompok-kelompok seperti ini biasanya menghadapi oposisi yang kuat dan pembatasan yang berat sehingga sangat tidak adil untuk menghakimi kesuburan mereka melalui pertambahan mereka. Akan tetapi, penting untuk diperhatikan bahwa rata-rata komunitas Menonite atau Salvation Army, di mana seluruh keluarga adalah anggota, menentukan keinginan untuk sebuah gereja yang “murni,” atau apa yang sering disebut gereja “orang-orang percaya,” dan membentuk sebuah eksperimen yang signifikan dalam struktur Kristen. Struktur sedemikian berdiri, dalam arti tertentu, di tengah-tengah antara modalitas dan sodalitas, karena struktur tersebut memiliki konstituen dari modalitas (melibatkan seluruh keluarga), namun demikian, pada tahun-tahun awalnya, mungkin memiliki vitalitas dan selektivitas dari sebuah sodalitas. Kita akan kembali kepada fenomena ini dalam bagian berikut.

Kita memiliki tempat di sini untuk menunjukkan bahwa dalam pengertian daya tahan dan kualitas iman Kristen, periode seribu tahun Abad Pertengahan pada umumnya tidak mungkin dijelaskan tanpa peran dari sodalitas-sodalitas. Apa yang terjadi di kota Roma hanyalah puncak gunung es saja, dan mewakili tingkatan yang agaknya superfisial dan politis saja. Ini berbeda dengan mata air fondasional dari penyelidikan Alkitab dan ketaatan yang radikal yang diwakili oleh berbagai sodalitas dalam milenium yang menentukan ini, yang hampir selalu muncul di segala tempat, dan sering ditentang oleh hirarki Roma.


Pemulihan Sodalitas oleh Orang Protestan

Gerakan Protestan dimulai dengan mengupayakan untuk berbuat tanpa jenis apa pun dari struktur sodalitas. Martin Luther tidak puas dengan polarisasi yang nyata antara vitalitas yang akhirnya dia temukan dalam ordonya dan kehidupan jemaat lokal yang sangat nominal pada masa itu. Tidak puas dengan kontras tersebut, dia meninggalkan sodalitas (tempat di mana dia diperkenalkan kepada Alkitab, surat-surat Paulus dan pengajaran “pembenaran oleh iman”) dan mengambil keuntungan dari kekuatan politik pada masanya untuk meluncurkan gerakan pembaharuan secara penuh pada tingkatan umum kehidupan gereja. Awalnya, dia bahkan mencoba melakukan itu tanpa struktur keuskupan yang khas Roma, tetapi akhirnya gerakan Lutheran menghasikan sebuah struktur keuskupan Lutheran yang sampai batasan tertentu mewakili pengadopsian kembali tradisi diose Roma. Tetapi gerakan Lutheran tidak, dalam artian yang dapat dibandingkan, mengadopsi kembali sodalitas-sodalitas, ordo-ordo Katolik, yang sangat menonjol dalam tradisi Roma.

Penilaian saya, penghilangan ini mewakili kesalahan terbesar dari Reformasi dan kelemahan terbesar dari tradisi Protestan yang dihasilkannya. Jika bukan karena gerakan yang disebut Pietisme, kaum Protestan mungkin akan sepenuhnya tidak memiliki struktur-struktur pembaharuan yang terorganisasi dalam tradisi mereka. Tradisi kaum Pietis, dalam setiap kemunculan barunya sebagai suatu kekuatan, pastinya merupakan sebuah sodalitas, karena itu merupakan pertemuan para orang dewasa yang berkumpul bersama dan menyatakan komitmen diri mereka untuk berbagai permulaan yang baru dan sasaran yang lebih tinggi sebagai orang Kristen tanpa berkonflik dengan pertemuan-pertemuan yang sudah dinyatakan oleh gereja yang ada. Fenomena sodalitas memupuk modalitas ini sangat menonjol dalam kasus pekerjaan awal John Wesley. Dia secara mutlak melarang untuk meninggalkan gereja-gereja lokal. Contoh di masa kini adalah East African Revival (Kebangunan Rohani Afrika Timur), yang pengaruhnya sangat luas, yang kini telah melibatkan satu juta orang namun dengan sangat cermat menghindari benturan apa pun dengan fungsi dari gereja-gereja lokal. Gereja-gereja yang tidak melawan gerakan ini sangat diberkati oleh adanya gerakan ini.

Akan tetapi, gerakan Pietisme, bersama dengan komunitas-komunitas baru Anabaptis, akhirnya mengalami kemunduran kepada tingkatan pertumbuhan biologis semata; Gerakan tersebut kembali kepada keadaan pola biasa dari kehidupan jemaat. Gerakan tersebut berbalik dari tingkatan sodalitas kepada modalitas, dan dalam banyak kasus, agaknya langsung menjadi tidak menjadi efektif entah sebagai struktur misi atau sebagai sebuah kekuatan pembaharuan.

Apa yang paling menarik kita adalah fakta bahwa karena gagal untuk memanfaatkan kekuatan sodalitas, kaum Protestan tidak memiliki mekanisme untuk misi selama hampir 300 tahun, sampai buku William Carey yang terkenal, An Enquiry, mengusulkan untuk “menggunakan sarana untuk mempertobatkan orang kafir.” Kata kunci sarana yang digunakan Carey khususnya merujuk pada kebutuhan akan sebuah sodalitas bagi prakarsa non-gerejawi yang terorganisasi dari orang-orang yang berhati baik. Maka, pendirian Baptist Missionary Society merupakan salah satu perkembangan organisasional yang paling signifikan dalam tradisi Protestan. Meski bukanlah yang paling awal, masyarakat misi seperti itu, diperkuat oleh tahapan kemudian dari “Kebangunan Injili” yang sangat kuat dan melalui pencetakan buku Carey, memulai dengan gencar penggunaan ”sarana” seperti ini untuk mempertobatkan orang “kafir,” dan kita menemukan dalam beberapa tahun berikutnya sejumlah masyarakat misi terbentuk dengan tujuan yang sama?12 masyarakat misi dalam 32 tahun.9 Sekali metode operasi ini dimengerti dengan jelas oleh orang Protestan, 300 tahun energi yang tersembunyi meledak dalam apa yang disebut dalam frasa Latourette sebagai “Abad Agung.” Dengan menolong untuk mengalirkan energi rohani yang sangat besar dari Reformasi, buku Carey mungkin telah berkontribusi lebih untuk misi global ketimbang buku lain dalam sejarah selain Alkitab sendiri!

Abad 19 adalah abad pertama di mana orang-orang Protestan secara aktif terlibat dalam misi. Karena keterbatasan ruang yang kita miliki untuk menjelaskannya di sini, itu juga merupakan abad yang paling menurun bagi energi misi Katolik. Luar biasanya, di dalam satu abad ini, orang Protestan, membangun ekspansi sedunia yang belum pernah terjadi sebelumnya oleh orang Barat, menyamai berbagai upaya misi selama 18 abad sebelumnya. Tidak diragukan bahwa apa yang telah dilakukan dalam abad ini menggerakkan aliran Protestan dari tempat yang terbelakang, terkurung pada diri sendiri, dan impoten di Eropa, menjadi kekuatan dunia dalam Kekristenan. Melihat ke belakang dari tempat di mana kita berada sekarang ini, tentu saja, sulit dipercaya bahwa gerakan Protestan sebenarnya baru belakangan ini saja menjadi menonjol.

Namun, secara organisasi, kendaraan yang mengizinkan gerakan Protestan menjadi vital adalah perkembangan struktural dari sodalitas, yang menuai kekuatan “sukarela” yang tersembunyi dalam Protestanisme, dan muncul ke permukaan dalam berbagai badan misi baru dari segala jenis, baik di tempat asal maupun di luar negeri. Gelombang-gelombang prakarsa Injili mengubah peta Kekristenan secara keseluruhan, terutama di Amerika Serikat, tetapi juga di Inggris, Skandinavia dan Kontinental Eropa. Pada tahun 1840, fenomena dari misi sodalitas begitu menonjol di Amerika sehingga frasa “Kerajaan Injili” dan frasa lainnya yang mirip digunakan untuk merujuk pada fenomena tersebut, dan sekarang dimulai sebuah tetesan perlawanan dari gereja terhadap kemunculan cemerlang dari struktur kedua yang baru ini. Ini membawa kita kepada pokok bahasan berikut.


Kesalahpahaman Masa Kini terhadap Sodalitas Misi

Hampir semua upaya misi dalam abad 19, apakah itu didukung oleh dewan interdenominasional atau denominasional, secara substansial adalah karya inisiatif yang independen dari struktur-struktur gerejawi yang terkait. Menuju paruh kedua dari abad 19, tampak semakin terlihat ada dua tradisi struktural yang terpisah.

Di satu sisi, adalah orang-orang seperti Henry Venn dan Rufus Anderson, yang menjadi pemikir strategis di dalam masyarakat-masyarakat misi yang lebih tua?Church Missionary Society (CMS) di Inggris dan American Board of Commissioners for Foreign Missions (ABCFM). Orang-orang ini memperjuangkan sodalitas misi yang semi otonom, dan mereka menyuarakan sikap yang pada awalnya tidak dilawan oleh para pemimpin struktur-struktur gerejawi yang penting. Di sisi lain, ada pandangan sentralisasi dari para pemimpin denominasional, terutama Presbiterian, yang berkembang hampir tanpa perubahan di sepanjang dua pertiga abad jelang akhir abad 19 dan di awal abad 20, di mana struktur-struktur yang tadinya independen dan hanya sekadar berhubungan dengan denominasi berangsur-angsur didominasi oleh gereja-gereja, yaitu dijalankan, bukan hanya diatur. Sebagian hasilnya, menuju ke akhir abad 19, bermunculan percikan baru sodalitas-sodalitas misi yang sama sekali terpisah dari gereja yang disebut Misi Iman, di mana Hudson Taylor dengan China Inland Mission (CIM) memimpin. Tidaklah diketahui secara luas bahwa pola ini utamanya adalah terjadinya kembali pola yang sudah didirikan lebih awal dalam abad itu, sebelum munculnya trenyang tertuju ke dewan-dewan denominasional.

Seluruh perubahan ini terjadi secara sangat bertahap. Sikap-sikap pada segi apa pun sulit diberitahukan, tetapi tampaknya jelas bahwa orang Protestan selalu kurang yakin terhadap legitimasi sodalitas. Tradisi Anabaptis secara konsisten menekankan konsep dari sebuah komunitas orang percaya yang murni dan karenanya tidak tertarik dengan tindakan sukarela yang hanya melibatkan sebagian dari komunitas orang percaya. Hal yang sama juga terjadi pada tradisi “Restorasi” dari Alexander Campbell dan Plymouth Brethren. “Pusat-pusat Karismatik” yang bertaburan baru-baru ini, dengan semua kelimpahan mereka secara lokal, cenderung untuk mengutus misionaris mereka sendiri, dan tidak belajar dari kelompok-kelompok Pentakosta sebelum mereka yang menggunakan badan-badan misi dengan dampak yang besar.

Denominasi-denominasi di Amerika, yang kurang memiliki dukungan pajak seperti di daratan Eropa, pada umumnya merupakan suatu persekutuan yang lebih selektif dan vital ketimbang gereja-gereja negara di Eropa, dan setidaknya dalam kelimpahan yang masih muda, merasa cukup mampu sebagai denominasi untuk menyediakan semua inisiatif yang perlu bagi misi di luar negeri. Karena alasan merasa mampu inilah banyak denominasi baru di Amerika cenderung bertindak seolah-olah kontrol gereja secara sentralisasi terhadap upaya misi hanyalah satu-satunya pola yang sepatutnya.

Sebagai hasilnya, hingga Perang Dunia Kedua, perubahan penuh terjadi dalam kasus hampir semua upaya misi yang terkait dengan struktur denominasional. Hampir semua dewan denominasional yang lebih tua, meskipun pernah semi otonom atau hampir independen, pada masa itu menjadi bagian dari penyediaan anggaran misi yang disatukan. Pada saat yang sama, dan sebagiannya sebagai hasil, sejumlah struktur misi independen yang baru muncul kembali, terutama setelah Perang Dunia Kedua. Seperti dalam kasus kemunculan Misi Iman yang lebih awal, struktur-struktur misi ini tidak terlalu memperhatikan para pemimpin denominasi dan aspirasi para pemimpin tersebut untuk misi yang berpusat pada gereja. Gereja Anglikan dengan CMS, USPG, dll., menunjukkan sintesis Abad Pertengahan, dan juga hampir secara tidak sadar, struktur-struktur dari CBA Amerika dengan rekannya CBFMS (sekarang World Venture), CBHMS (sekarang MTTA). Jadi, sampai hari ini, di antara orang Protestan, terus berlanjut kebingungan yang dalam tentang legitimasi dan hubungan yang sepatutnya dari kedua struktur yang telah memanifestasikan diri mereka di sepanjang sejarah gerakan Kristen.

Lebih buruk lagi, kebutaan Protestan tentang kebutuhan sodalitas-sodalitas misi telah memiliki dampak tragis di ladang misi. Misi Protestan, yang berjiwa modalitas, cenderung menganggap bahwa hanya modalitas, yaitu gereja, yang perlu didirikan. Pada kebanyakan kasus di mana pekerjaan misi sedang dijalankan oleh sodalitas-sodalitas misi yang semi otonom, penanaman modalitaslah, bukan sodalitas yang menjadi satu-satunya sasaran. Badan-badan misi (bahkan mereka yang sepenuhnya independen dari denominasi di tempat asalnya) cenderung dalam misi mereka untuk mendirikan gereja-gereja dan bukan menanam sodalitas-sodalitas misi, sebagai tambahannya, di ladang-ladang misi.10 Gerakan “Misi Dunia Ketiga” yang luar biasa telah muncul dari berbagai gereja di ladang misi ini, tetapi dengan secara memalukan gerakan ini hanya mendapat sedikit dukungan dari masyarakat misi Barat, sama sedih dan herannya seperti tampaknya.

Menakjubkan bahwa kebanyakan misionaris Protestan bekerja dengan struktur-struktur (misi) yang tidak ada dalam tradisi Protestan selama ratusan tahun, dan yang tanpa struktrur-struktur tersebut tidak akan ada inisiatif misi, karenanya telah menjadi buta akan signifikansi struktur yang di dalamnya mereka bekerja. Di dalam kebutaan ini mereka hanya menanam gereja dan tidak secara efektif memperhatikan diri mereka sendiri untuk memastikan bahwa jenis struktur misi yang dengannya mereka beroperasi juga harus dibentuk di lapangan. Banyak badan misi yang dibentuk setelah Perang Dunia Kedua, dari rasa hormat yang ekstrem terhadap gerakan-gerakan gereja yang ada dan sudah mapan di berbagai ladang misi di luar negeri itu, bahkan belum berusaha untuk mendirikan gereja-gereja, dan selama bertahun-tahun telah bekerja hanya sebagai badan pembantu dalam berbagai kapasitas pelayanan untuk menolong gereja-gereja yang sudah ada di sana.

Pertanyaan yang perlu kita ajukan adalah berapa lama sampai gereja-gereja yang lebih muda dari wilayah-wilayah misi dari dunia non-Barat tiba pada kesimpulan penting (di mana gerakan Protestan di Eropa terlambat mengerti), yaitu, bahwa ada kebutuhan akan struktur-struktur sodaltias, seperti “penggunaan sarana”-nya William Carey, agar jemaat gereja dapat menjangkau dengan inisiatif yang hidup dalam misi, khususnya misi lintas budaya. Sudah ada beberapa tanda penuh harapan bahwa penundaan tragis ini tidak akan berlanjut. Sebagai contoh, kita melihat pekerjaan yang istimewa dari Melanesian Brotherhood di Kepulauan Solomon.


Kesimpulan

Artikel ini sama sekali tidak berusaha mencela atau mengkritik gereja yang teroganisasi. Tulisan ini telah mengasumsikan akan kebutuhan dan kepentingan dari struktur jemaat lokal, struktur diose, struktur denominational, struktur eklesiastik. Struktur modalitas dalam pandangan tulisan ini merupakan struktur yang secara mutlak sangat diperlukan, sama seperti pemerintahan sipil itu penting bagi perusahaan swasta. Semua yang diupayakan di sini adalah untuk menggali beberapa pola historis yang menunjukkan bahwa Allah, melalui Roh Kudus-nya, dengan jelas dan secara konsisten menggunakan sebuah struktur selain dari (dan terkadang sebagai ganti dari) struktur modalitas. Upaya kami di sini adalah untuk menolong para pemimpin gereja dan orang lain untuk mengerti legitimasi dari kedua struktur, dan perlunya kedua struktur untuk bukan hanya eksis, tetapi juga bekerja bersama secara harmonis demi penggenapan Amanat Agung dan demi penggenapan akan semua yang Allah inginkan bagi zaman kita.