PERSPEKTIF
.co
christian
online
Perspektif: Tentang Gerakan Orang Kristen Dunia

Analogi Penebusan (2)

Dari Perspektif: Tentang Gerakan Orang Kristen Dunia

Langsung ke: navigasi, cari

Draf Buku Perspektif


... Sambungan dari Bagian 1


Menggunakan Nama Lokal bagi Allah

Kategori khusus lainnya dari analogi penebusan terkait dengan nama-nama yang dapat digunakan bagi Allah?nama alias bagi Elohim?yang ditemukan dalam ribuan bahasa di seluruh dunia. Orang Kristen melakukan kesalahan ketika kita langsung berasumsi bahwa orang kafir sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang Allah. Faktanya, sejumlah besar budaya kafir memiliki konsep yang luar biasa jelas mengenai Allah Tertinggi yang menciptakan segala sesuatu. Alkitab memberitahu kita untuk mengharapkan hal ini karena wahyu umum Allah terdapat melalui penciptaan dan kesadaran manusia. Sebagai contoh:


1. Rasul Paulus menulis, “Sebab apa yang tidak tampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Rom. 1:20). Kepercayaan ini, bahwa manusia telah mengetahui sesuatu tentang Allah bahkan sebelum mereka mendengar taurat Yahudi atau Injil orang Kristen, menjadi batu penjuru dari teologi penginjilan Paulus. Dia menyatakan hal ini di kota orang Likonium yang disebut Listra, memberitakan bahwa “Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu…” dll. (Kis. 14:16-17).


2. Di dalam suratnya yang terkenal kepada orang Kristen di Roma, Paulus menulis bahwa “Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela” (Rom. 2:14-15).


3. Rasul Yohanes menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang” (Yoh. 1:9). Dan Raja Salomo menulis bahwa Allah telah “memberikan kekekalan dalam hati mereka.” Dia menambahkan pernyataan peringatan bahwa manusia sendiri masih tetap “tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (Pkh. 3:11). Menurut sarjana bahasa Ibrani Gleason Archer, pernyataan Salomo memiliki arti bahwa manusia memiliki suatu kemampuan yang diberikan Allah untuk mengerti konsep kekekalan, dengan seluruh implikasinya yang tidak tetap bagi makhluk bermoral.


4. Raja Daudlah, yang merupakan ayah dari Salomo yang menuliskan penghargaan elegan mengenai kesaksian alam semesta tentang Allah bagi diri-Nya sendiri yang berbunyi “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi” (Mzm. 19:1-4). Daud kemudian berfokus pada matahari, menggambarkannya sebagai “yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya” dan seorang yang “girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya” (Mzm. 19:5-6). Mungkin lebih dari bagian Alkitab lain, Mazmur ini dengan tepat memperkenalkan Raja Pachacutec.


Reformasi Kecil Pachacutec

Pachacutec mungkin merupakan contoh terbaik dalam sejarah dari apa yang dimaksud Paulus, Yohanes, Salomo dan Daud dalam kutipan berbagai perikop di atas. Pachacutec adalah seorang Inka yang hidup antara tahun 1400 sampai 1448 M. Dia juga seorang pewirausaha yang merancang dan membangun Macchu Picchu, mungkin merupakan tempat wisata gunung pertama di benua Amerika. Setelah invasi Spanyol di Peru, Macchu Picchu menjadi tempat perlindungan terakhir bagi orang Inka dari kelas atas.

Pachacutec dan sukunya memuja matahari, yang mereka sebut Inti. Tetapi Pachacutec menjadi curiga terhadap otoritas Inti. Seperti Raja Daud, Raja Pachacutec mempelajari matahari. Matahari tidak pernah melakukan apa pun, sejauh yang bisa diceritakan Pachacutec, kecuali terbit, bersinar, melintasi jalurnya dan terbenam. Hari berikutnya, hal yang sama terjadi?terbit, bersinar, melintasi jalur, terbenam. Tidak seperti Daud yang menyamakan matahari dengan pengantin laki-laki atau seorang pahlawan, Pachacutec berkata, “Inti terlihat seperti pekerja kasar yang melakukan hal yang sama setiap hari. Dan jika dia hanya sekadar pekerja kasar, pasti dia bukan Tuhan! Jika Inti adalah Allah, Inti sekali-kali pasti akan berbuat hal yang orisinal!”

Dia berpikir lagi dan mengamati, “Hanya kabut saja sudah membuat sinar Inti menjadi suram. Jika Inti adalah Allah, tidak ada satu pun yang dapat membuat sinarnya menjadi suram!” Maka Pachacutec sampai kepada kesadaran penting?dia selama ini telah memuja benda sebagai pencipta!

Tetapi jika Inti bukan Allah, kepada siapa Pachacutec beralih? Kemudian dia teringat sebuah nama yang pernah diserukan oleh ayahnya?Viracocha! Menurut ayahnya, Viracocha tidak lain dari seorang allah yang menciptakan segala sesuatu. Semua hal termasuk Inti! Pachacutec sampai kepada keputusan yang tajam. Omong kosong tentang Inti sebagai Allah ini telah berjalan cukup jauh! Dia mengumpulkan para pendeta matahari, suatu perkumpulan kafir seperti Konsili Nicea. Berdiri di hadapan para jemaah di pertemuan itu, Pachacutec menjelaskan alasanya mengenai supremasi Viracocha. Kemudian dia memerintahkan agar Inti, sejak saat itu, hanya disebut sebagai “saudara” saja. Doa, menurut Pachacutec, harus diarahkan kepada Viracocha, Allah tertinggi.

Meskipun umumnya mengabaikan Pachacutec, para sarjana secara luas mengelu-elukan Akhenaten, seorang raja Mesir (1379-1361 M), sebagai orang jenius yang langka karena dia berusaha menggantikan pemujaan berhala yang sangat membingungkan di Mesir kuno dengan ibadah yang lebih murni dan sederhana kepada matahari sebagai satu-satunya Allah. Namun Pachacutec lebih maju dari Akhenaten dalam kesadarannya mengenai matahari, yang hanya bisa membutakan mata manusia, namun tidak bisa menandingi Allah yang terlalu besar untuk bisa dilihat oleh mata manusia. Jika pemujaan terhadap matahari yang dilakukan Akhenaten merupakan sebuah langkah di atas penyembahan berhala, pilihan Pachacutec bagi Allah yang tidak terlihat adalah sebuah lompatan jauh ke wilayah stratosfer!

Mengapa para sarjana modern, religius maupun sekuler, sama sekali mengabaikan orang yang mengagumkan ini? Mungkin karena Pachacutec kurang memiliki pencapaian yang lebih besar. Satu ukuran penting dari orang jenius adalah kemampuannya mengomunikasikan pandangannya kepada orang “biasa.” Para pemimpin religius yang besar dari Musa sampai Buddha dan Paulus sampai Luther semua memiliki kemampuan yang luar biasa dalam hal ini. Pachacutec bahkan tidak pernah mencoba. Mempertimbangkan sebagian besar orang di sukunya terlalu bodoh untuk menghargai nilai dari Allah yang tidak terlihat ini, Pachacutec dengan sengaja membiarkan mereka tidak tahu apa-apa mengenai Viracocha. Reformasi Pachacutec, meskipun luar biasa, hanya menjadi reformasi kecil, terbatas pada kelas atas saja. Kelas atas biasanya merupakan fenomena sosial yang memiliki jangka hidup yang pendek. Kurang dari satu abad setelah kematian Pachacutec, bangsa Spanyol penakluk yang kejam menghancurkan masyarakat kelas atas dari kerajaan Pachacutec dan reformasinya berakhir.

Apakah Viracocha memang adalah Allah sejati, Allah pencipta? Atau Dia hanya sekadar fiksi khayalan dari imajinasi Pachacutec, seorang penipu? Jika Rasul Paulus hidup pada masa Pachacutec, dan jika salah satu perjalanan misinya membawanya ke Peru, akankah Paulus mencela pemikiran Pachacutec sebagai delusi?Atau Paulus akan setuju bahwa “nama Yahweh di wilayah ini adalah Viracocha.” Tidak sulit untuk menarik kesimpulan dari sikap Paulus mengenai pertanyaan ini. Ketika dia mengabarkan Injil di antara orang-orang yang berbahasa Yunani, dia tidak memaksakan sebuah nama Yahudi bagi Allah?Yehova, Yahweh, Elohim, Adonai atau El Shaddai?kepada mereka. Sebaliknya Paulus meletakkan meterai kerasulannya ke atas keputusan berusia dua ratus tahun lalu dari para penerjemah versi Septuaginta untuk Perjanjian Lama. Mereka memberi nama Allah Yahudi dengan nama Yunani?Theos. Paulus setuju.

Menariknya, para penerjemah Septuaginta tidak berusaha menyamakan dewa Yunani Zeus dengan Yahweh. Tidak juga Paulus. Meskipun orang Yunani meninggikan Zeus sebagai “raja para dewa,” dia juga dilihat sebagai keturunan dua dewa lain, Kronos dan Rea. Maka nama Zeus tidak memenuhi syarat untuk disamakan dengan Yahweh, yang tidak dicipta. Setelah itu, kata Latin yang berasal dari satu rumpun?Deus?menggantikan Theos sebagai nama yang sejajar dengan Yahweh yang bisa diterima orang Kristen Romawi!

Dan ketika Paulus memberitakan Injil di Atena, dia dengan berani menyamakan Yahweh dengan “Allah yang tidak dikenal” yang ditulis di sebuah altar tertentu di kota itu. Paulus berkata, “Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.”


Kesempatan bagi Injil

Sebuah prinsip muncul. Berlawanan dengan kepercayaan Saksi Yehova, tidak ada sesuatu yang di dalamnya sakral tentang kombinasi apa pun dari bunyi atau karakter abjad sebagai sebuah nama bagi Yang Mahakuasa. Dia dapat memiliki puluhan ribu nama lain (alias), jika diperlukan, dalam puluhan ribu bahasa. Mustahil untuk berbicara mengenai Pencipta yang tidak diciptakan tanpa memaknai DIA. Setiap orang yang mampu memprotes bahwa “sebagian dari atribut-Nya hilang” bertanggung jawab untuk mengisinya! Setiap kevakuman theologis yang melingkupi konsep tentang Allah dalam budaya apa pun bukan merupakan sebuah halangan bagi Injil?itu merupakan sebuah kesempatan!

Ketika Kekristenan telah tersebar ke seluruh dunia, Kekristenan terus menegaskan, sejak dari Paulus sampai sekarang, konsep Allah Tertinggi dalam ribuan tradisi manusia:

  • Ketika para misionaris Celtic menjangkau suku bangsa Anglo-Saxons di utara Eropa, mereka tidak memaksakan nama Yahudi atau Yunani bagi Allah kepada bangsa tersebut. Sebaliknya mereka menggunakan bahasa Anglo-Saxons seperti “Gött,” “God” atau “Gut.”
  • Pada tahun 1828 misionaris dari Baptis Amerika, George dan Sarah Boardman, menemukan suku Karen di selatan Burma yang percaya bahwa Allah yang agung yang bernama Y’wa (bayangan Yahweh) pada masa yang lampau telah memberikan sebuah buku keramat kepada para bapa leluhur mereka! Ah, bapa leluhur mereka yang nakal telah menghilangkannya! Tetapi menurut tradisi suku Karen yang masih terus bertahan, suatu hari nanti seorang saudara kulit putih akan mengembalikan buku yang hilang tersebut kepada suku Karen, mengembalikan mereka kepada persekutuan dengan Y’wa. Tradisi tersebut meramalkan bahwa saudara kulit putih ini akan muncul dengan membawa sebuah benda hitam di bawah lengannya. George Boardman, yang memiliki kebiasaan mengapit Alkitab kulit warna hitamnya di bawah lengan, menjadi saudara kulit putih tersebut, dan ratusan ribu orang-orang Karen dibaptis sebagai orang percaya dalam beberapa dekade!
  • Pada tahun 1867 misionaris Lutheran berkebangsaan Norwegia, Lars Skrefsrud, menemukan ribuan orang dari suku Santal di India menyesalkan penolakan para bapa leluhur mereka terhadap Thakur Jiu, Allah sejati. Skrefsrud menyatakan bahwa Putra dari Thakur Jiu telah datang ke bumi untuk memperdamaikan manusia yang telah diasingkan dengan diri-Nya. Hasilnya: Dalam beberapa dekade, lebih dari seratus ribu orang di suku Santal menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat mereka!
  • Para pionir Presbiterian di Korea menemukan nama Korea bagi Allah?Hananim, Yang Terbesar. Alih-alih mengesampingkan Hananim dan memaksakan nama asing bagi Allah, mereka memberitakan Yesus Kristus sebagai Putra Hananim. Di dalam delapan puluh tahun, lebih dari dua setengah juta orang Korea menjadi pengikut Yesus Kristus!
  • Selama tahun 1940, Albert Brant dari Sudan Interior Mission menemukan ribuan suku Gedeo di Etiopia yang percaya bahwa Magano, Sang Pencipta, suatu hari nanti akan mengutus pembawa pesan untuk berkemah di bawah pohon kurma tertentu. Secara tidak dicurigai, Albert berkemah di bawah pohon tersebut dan respons luar biasa terhadap Injil dimulai, melahirkan 250 gereja dalam waktu kurang dari tiga dekade.


Kisah-kisah terobosan ini dapat diperbanyak sampai ratusan dari sejarah misi. Paulus, Yohanes, Salomo dan Daud memang benar! Allah tidak membiarkan diri-Nya tanpa kesaksian dari wahyu umum. Betapa tragisnya bahwa generasi-generasi sebelumnya tidak lebih cepat menaati Amanat Agung. Apa yang mungkin telah terjadi seandainya para pembawa Injil membantu Pachacutec menemukan dalam Yesus Kristus penggenapan dari apa yang dia?karena kekekalan ada dalam hatinya?tahu sebagai kebenaran?

Berapa banyak Pachacutec lainnya yang akan mati tanpa kepastian? Berapa banyak generasi Pachacutec yang akan bangkit pada masa penghakiman untuk bergabung dengan orang Niniwe dan Ratu Syeba menyalahkan orang percaya yang tidak peduli (Luk. 11:31-32)? Mari kita berusaha untuk menjadi?bagi generasi kita?seperti Boardmans, Skrefruds, Brant, yang peduli dan pergi memberitakan Injil!

Di dalam generasi kita, pilihan bahasa untuk merujuk kepada Allah merupakan masalah yang menentukan. Sebagai contoh, sebagian orang Kristen percaya bahwa nama Arab M bagi God, "Allah", tidak bisa diterima sebagai sinonim bagi Elohim. Biarlah diketahui bahwa jutaan orang Kristen di Indonesia menggunakan kata "Allah" untuk merujuk pada God dan "Tuhan Allah" untuk Tuhan Allah. Mungkin karena hal ini, orang Kristen di Indonesia telah menjadi lebih efektif dalam memenangkan orang M bagi Kristus ketimbang orang Kristen lain di dunia. Biarlah diketahui juga bahwa orang M di beberapa negara M, karena mengetahui nama Allah ini dapat menyentuh hati orang M, mereka menetapkan hukum untuk melarang orang Kristen menggunakan nama ini dalam merujuk kepada Injil Kristus.

Konsep-konsep seperti Anak Perdamaian di suku Sawi, hai di suku Damal, nabelan-kabelan di suku Dani, lahir baru di suku Asmat dan osuwa di suku Yali ada di jantung dari berbagai budaya manusia. Ketika para pembawa pesan Injil mengabaikan, menjelekkan atau menghapuskan kekhasan seperti ini, penolakan terhadap Injil dapat mengeras dalam budaya konkret. Tetapi ketika analogi penebusan mengidentifikasi dan menegaskan berbagai komponen budaya yang merupakan hasil dari pengaruh Allah melalui wahyu umum, Alkitab sendiri, wahyu khusus Allah, dapat diangkat sebagai penggenapan dari wahyu Allah, dari Allah dan bagi Allah.

Masih ada ratusan wilayah di mana respons terhadap Injil begitu kecil bahkan tidak ada sama sekali. Di wilayah-wilayah inilah, penyelidikan yang peka terhadap budaya dapat menemukan kemungkinan yang luar biasa bagi terobosan Injil melalui analogi penebusan.


Draf Buku "Perspektif: Tentang Gerakan Orang Kristen Dunia -- Manual Pembaca" Edisi Keempat, Disunting oleh Ralph D. Winter, Steven C. Hawthorne. Hak Cipta terbitan dalam bahasa Indonesia ©2010 pada Perspectives Indonesia

... kembali ke atas